Flower Power – Ishak

Life Journal of Ishakq in UNPAD

RS sebagai rumah ke dua ketika anaku kena demam berdarah

April5

Setelah kemaren anak ku terdeteksi Demam Berdarah (DB), maka langsung di kasih rujukan untuk ke rumah sakit. Saya biasanya sangat rewel kalau urusan rumah sakit dan opname, mengingat bisa saja di satu titik seseorang meninggal dalam perawatan. Bukan tidak percaya sama dokternya, tapi diharapkan ada yang bisa mentalqinkan kalau sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Jadilah rs. m%%%% menjadi pilihan. Kamar pada penuh. Kamar kelas II pun jadi-lah.

Kelebihan memilih kelas rendah
1. Biasanya jiwa solidaritas dan sosial antar keluarga pasien cukup tinggi, dibanding kamar-kamar VIP yang menyendiri.
2. Karena jiwa sosialnya tinggi, minimal kita bisa nitip pasien dan barang, kalau kita terpaksa keluar (untuk makan misalnya)..
3. Pasien bisa sedikit lebih terhibur dengan mengobrol sesama pasien.
4. Pasien bisa bersyukur mana kala tahu, ada pasien lain yang lebih parah.
5. Bisa berbagi makanan antar penunggu pasien (walaupun highly un-recomended, considering health sanitation on hospital)
6. Lebih murah, tidak bikin kantong bobol, tidak sadikin (sakit dikit langsung miskin) he he he.
7. Ngak terlalu rewel soal jumlah penunggu pasien

Kekurangan memilih kelas rendah
1. Walaupun secara umum layanan yang diberikan adalah layanan standard, namun biasanya susternya rada-rada ngak peduli gitu, terutama kalau yang kita keluhkan adalah masalah kecil, seperti adanya gelembung udara di selang infus misalnya. Padahal jika pada infus / suntikan terdapat gelembung udara dan masuk ke pembuluh darah vena, maka akibatnya bisa sangat fatal, yaitu kematian.
2. Ribet, lab sama obat harus ditebus sendiri. Padahal saya pikir, kenapa ngak langsung aja ya perawatnya ambil obat ke apotik, terus diberikan ke pasien. Biar aja biaya akumulasi. Nanti pas pulang dibayar semua. Kan lebih manusiawi.
3. Sudah bayar pake kartu. Selama ini saya tidak pernah melihat adanya kebutuhan kredit card. Tapi rumah sakit yang saya pilih ini ngak nerima debit card. Hanya kredit card, itu pun hanya yang visa.

Tapi setelah sehari, saya malah jadi ikutan istirahat di rumah sakit ini. Apalagi sakit saya kemaren belum sembuh betul. Jadilah tidur melulu. Kelihatannya enak juga dirawat sambil di infus.

Nah, kalau mau tunggu pasien di rumah sakit, usahakan bergiliran. Menungui pasien, memang seperti pekerjaan gampang, tapi rasa bosan dan posisi badan yang tidak bebas, menebabkan proses menunggu pasien menjadi kegiatan yang melelahkan. Dengan bergiliran, maka penunggu pasien yang jadi pasien (karena tertular atau kecapekan) dapat dihindarkan.

Ada satu pengalaman unik, setelah lewat satu hari di RS ini, saya koq jadi mulai betah ya ? Kasur yang empuk dan cukup gede buat bedua sama anak (he he he). Komunikasi obrolan hangat dengan sesama penunggu pasien, saling jaga. Enak juga…..

Tapi sebagus-bagusnya rumah sakit, tetep aja auranya ngak enak. Banyak rasa-rasa kepedihan. Jadi betah ngak betah. Kelihatannya tetep lebih enak di rumah.

Satu hal yang membuat saya sempet mikir adalah ketika anak saya di test alergi terhadap sebuah anti biotik. Bekas suntikannya dibuletin pake ball point kemudian dicatat tanggal testnya. Jika tidak ada alergi, maka pengobatan bisa dilanjutkan. Saya jadi inget kejadian di rumah sakit

Seperti yang diketahui bahwa salah satu prosedur penerimaan pasien di rumah sakit adalah menanyakan, apakah pasien memiliki alergi terhadap sesuatu. Jika terdapat alergi, maka alergi tersebut dicetak pada gelang pasien. Sampai suatu ketika seorang perawat bertanya mengenai alergi seorang pasien, dan pasien tersebut tidak bisa memakan pisang.

Bayangkan keterkejutan yang terjadi ketika beberapa jam kemudian, seorang anak yang sangat marah datang ke ruang perawat dan menunutut, “Siapa yang bertanggung jawab memberi label pada ibu saya sebagai ‘pisang….. ?’

Pesan moral : Memang praktis, tapi …. cobalah sedikit manusiawi

Ngomong2 mengenai demam berdarah, sambil nungguin anakku, coba search di internet. Dapet di sini.

Situs ini mengatakan bahwa :
Jangan Buru-buru Transfusi Darah

Demam berdarah memang bisa menjadi penyakit mematikan bila tidak ditangani secara serius. Namun, penanganannya tidak selalu dengan transfusi. Dalam banyak kasus, banyak minum atau infus saja bisa menyelamatkan pasien.

Hampir setiap tahun, ketika musim hujan berlangsung, selalu saja terjadi wabah demam berdarah dengue (DBD). Kalau sudah begini orang mulai panik melakukan pencegahan. Yang telanjur terjangkit pun mulai resah. Yang terbayang, harus menjalani transfusi darah dengan berbagai risiko yang mungkin muncul. Yang celaka bila dokter yang menangani masih “fresh from the campus”. Tak jarang, dengan entengnya, dia meminta dilakukan transfusi darah. Keluarga pasien pun kalang kabut.

Padahal, demam berdarah tak selalu memerlukan tindakan transfusi darah. Dalam banyak kasus, demam berdarah cukup ditangani dengan pemberian cairan infus. Transfusi darah hanya dilakukan pada kondisi khusus.

Jumlah trombosit cepat normal

*

Seseorang yang menderita demam berdarah mengalami perubahan dalam permiabilitas pembuluh darah. Dinding pembuluh darah penderita menjadi mudah ditembus cairan tubuh. Akibatnya, air dari pembuluh darah akan masuk ke dalam jaringan. Pembuluh darah pun menjadi kekurangan cairan dan oksigen. Bila berlanjut penderita bisa mengalami shock, yang bisa menggiring pasien ke arah kematian.

Dalam kasus ini, mengatasinya bukan dengan transfusi darah atau komponen darah, khususnya trombosit. Pasien cuma mengalami kekurangan cairan, sehingga penanganannya ya dengan memberikan infus cairan elektrolit.

Cairan ini berfungsi untuk mengencerkan darah sehingga darah tidak pekat dan oksigen mudah dialirkan. Komponen darah yang bertugas mengalirkan oksigen itu adalah eritrosit (sel darah merah). Sementara trombosit sebagai pencegah perdarahan, leukosit (sel darah putih) untuk pertahanan hidup, dan plasma darah untuk pembekuan darah.

Demam berdarah juga bisa meyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam darah. Penurunan trombosit ini biasanya terjadi pada hari keempat sampai kelima. Penurunan berlangsung selama 3-4 hari. Namun, jumlah trombosit akan meningkat kembali setelah pasien diberi cairan dalam jumlah cukup. Dan setelah sembuh, jumlah trombosit darah bisa normal kembali dengan cepat. Dengan demikian
transfusi trombosit tidak diperlukan.

Selain itu, transfusi trombosit mengundang risiko cukup tinggi. Selain memerlukan biaya cukup mahal, ada kemungkinan pasien akan mengalami infeksi berbagai virus, terutama bila (komponen) darah tidak melalui proses screening. Lama-lama pasien pun bisa imun terhadap trombosit.

Atas dasar itulah, ketika demam berdarah mewabah pada tahun 1998, RSCM menerapkan kebijakan tidak memberikan trombosit pada pasien yang kondisinya “baik”, yakni tidak terjadi perdarahan; yang dimaksud, adanya bercak-bercak merah di bawah kulit dan bila ditekan tidak menghilang. Transfusi trombosit hanya diberikan bila jumlah trombosit sangat rendah disertai dengan perdarahan.

Ketika itu, tindakan transfusi darah di RSCM hampir nihil. Sampai April 1998 minggu kedua jumlah penderita demam berdarah yang masuk ke RSCM sudah mencapai 354 orang. Mereka tidak diberi transfusi darah berupa penambahan trombosit. Mereka cuma mendapatkan infus cairan elektrolit. Hasilnya, mereka berhasil sembuh. Cuma seorang pasien yang meninggal dunia. Itu pun lantaran si pasien juga penderita diabetes.

Risiko yang muncul dari penurunan trombosit memang tergantung pada tingkat keparahan penurunannya. Bila jumlah trombositnya kurang dari 60.000, pasien mempunyai risiko terjadinya perdarahan. Kurang dari 20.000 risikonya berupa perdarahan tiba-tiba. Lebih rendah dari 5.000 risikonya paling tinggi, yakni perdarahan otak.

Fungsi trombosit di dalam tubuh sangat penting, yakni menghentikan perdarahan akibat pecahnya pembuluh kapiler. Dan perdarahan ini hanya dialami oleh penderita yang mukosanya sudah terbuka. Umpamanya pada orang yang mengalami tukak lambung.

Minum sebanyak-banyaknya

Pada akhir dekade 1970-an dan awal dekade 1980-an penyakit yang disebabkan virus dengue ini banyak menjangkiti anak-anak. Meskipun begitu ada juga bayi berusia kurang dari 1 tahun terserang penyakit ini.

Bayi berumur kurang dari 6 bulan umumnya amat jarang terserang DBD. Namun, pada akhir dekade 1990-an orang dewasa pun bisa terjangkiti. Penderita dewasa berusia 15-40 tahun ini mencapai 30-40%.

Bila virus dengue sudah menyusup ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, gejala demam berdarah pun segera muncul. Namun, gejala awalnya mirip penyakit lain, sehingga dokter pun tak bisa memastikannya.

Pada hari sakit kesatu – ketiga, demam tinggi mendadak, tidak pilek atau batuk, muka kemerahan, lesu dan lemah, tidak nafsu makan, mual dan muntah, dapat disertai mencret, kejang, nyeri otot, pegal-pegal, serta nyeri perut. Pada hari sakit ketiga-kelima, demam turun tapi penderita tetap lemah. Hari sakit keenam merupakan fase penyembuhan, demam menghilang, tidak ada perdarahan baru, timbul
nafsu makan, dan sembuh dari gejala sisa.

Pada saat gejala awal muncul, penderita harus minum sebanyak-banyaknya (ini berlaku untuk sakit apa pun). Dia mesti minum obat penurun panas, kompres hangat, minum obat anti kejang bila ada riwayat kejang.

Penderita demam berdarah tidak mesti harus dibawa ke dokter. Yang perlu dilakukan keluarga pasien adalah tidak terburu-buru panik, apalagi langsung memeriksakan darah pasien tanpa referensi dokter.

Sebaiknya dia diperiksa apakah demamnya benar-benar sangat tinggi? Apakah penderita tidak dapat atau tidak mau minum? Apakah terus menerus muntah? Apakah timbul gejala shock? Apakah timbul perdarahan? Jika semua pertanyaan tadi jawabannya ya, pasien perlu segera dibawa ke dokter. Setelah melalui pemeriksaan darah atas permintaan dokter, apakah hasilnya menunjukkan
peningkatan kekentalan darah dan penurunan trombosit darah secara signifikan? Kalau pertanyaan terakhir jawabnya ya, pasien perlu dibawa ke rumah sakit.

Serangan kedua lebih berbahaya

*

Ada dua virus penyebab demam berdarah, yakni dengue dan chikungunya. Namun, virus dengue menjadi penyebab terpenting demam berdarah.

Makanya, penyakit yang disebabkannya disebut demam berdarah dengue. Yang diserang virus ini adalah sel, kemungkinan sel trombosit. Tapi, kemungkinannya bisa juga menyerang sel lain.

Masa inkubasinya dua minggu. Begitu gejala DBD muncul, sampai tiga hari timbulnya gejala itu virusnya masih hidup. Setelah itu, mereka akan mati.

Virus dengue sendiri terbagi atas empat tipe, yakni dengue 1, 2, 3, dan 4. Tipe virus bisa berbeda-beda untuk setiap negara. Di Indonesia misalnya, terdapat virus dengue tipe 2 dan 3.

Serangan virus dengue kedua akan lebih berbahaya dibandingkan serangan pertama. Pasalnya, serangan kedua bisa menimbulkan reaksi hematologi (perdarahan) berlebihan. Sebaliknya, pasien, terutama anak, yang terkena serangan pertama cuma mengalami demam dengue klasik.

Memang sangat sulit membedakan si penyebar virus dengue, nyamuk aedes aegypti, dari nyamuk lainnya. Yang terbaik agar terhindar dari demam berdarah adalah “jangan sampai digigit nyamuk”.

Ini sekadar semboyan. Yang penting adalah tidak memberi peluang bagi terbentuknya habitat nyamuk. Rajin-rajinlah membersihkan lingkungan, tidak membiarkan genangan air, atau mengganti secara berkala air yang terus menggenang. Pokoknya seperti “3M” yang diserukan di iklan obat nyamuk itu.

Pengasapan, penaburan bubuk abate, dan lain-lain hanya salah satu kit tambahan (bukan utama), karena yang terutama adalah cara hidup bersih kita. (intisari)

Sedangkan kalau menurut dokter, bisa dilihat di sini.

Situs ini bilang :

Demam dan trombosit turun = demam berdarah?

Dr. Alan R. Tumbelaka, SpA(K)
Divisi Infeksi dan Penyakit Tropik
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM

Artikel Majalah Anakku Januari 2006

” Dok, anak saya gak kena demam berdarah kan?” tanya Mira saat berkonsultasi dengan dokter anaknya sore itu. Anaknya sudah demam tinggi sejak kemarin malam dan Mira khawatir ini bukan demam biasa. Ibunya tadi malam sudah mewanti-wanti. “Buruan di bawa ke dokter, takut demam berdarah,” temannya pun menasehatkan.” Periksa saja trombositnya, jangan-jangan demam berdarah, sekarang lagi musim lho.” Mira bertambah panik, apalagi setelah melihat siaran televisi bahwa banyak korban meninggal karena demam berdarah.

Mira kurang puas ketika dokter menjelaskan bahwa anaknya baru mengalami demam selama satu hari, jadi belum bisa dipastikan apakah anaknya demam berdarah atau tidak. “Dok, tidak apa-apa deh anak saya diperiksa darahnya, yang penting bisa ketahuan demam berdarah atau bukan.”

Episode ini pasti sering terdengar di balik bilik konsultasi. Benarkah demam tinggi mendadak berarti demam berdarah? Mengapa ada kasus yang begitu berat hingga pasien meninggal dunia, tetapi mengapa pula ada yang ringan saja? Apakah trombosit turun sudah jaminan bahwa anak terkena demam berdarah?Demam berdarah disebabkan virus dengue sehingga disebut sebagai demam berdarah dengue (DBD). Virus dengue terdiri dari empat jenis atau strain yaitu dengue tipe 1, 2, 3, dan 4. Virus ini dapat menginfeksi manusia lewat nyamuk Aedes Aegipty atau Aedes Albopictus. Nyamuk ini kakinya belang-belang putih-hitam dan mengigitnya justru di siang hari. Tidak semua orang yang terkena virus dengue akan mengalami demam dengan gejala berat, sebagian lagi hanya sakit ringan.

Mengenal lebih dalam demam berdarah

Sudah banyak teori yang coba menjelaskan mengapa pada anak yang satu bisa mengalami demam berdarah yang berat sedangkan pada anak lain tidak. Salah satu teori mengatakan, bila kita terinfeksi virus dengue 2 kali dengan strain yang berbeda, penyakit yang muncul akan lebih parah. Teori yang lain menyebutkan si virus dengue punya “sifat ganas” yang berbeda-beda. Ini menjelaskan mengapa pada bayi yang baru terkena virus dengue satu kali saja langsung menjadi demam berdarah yang fatal.

Di Indonesia dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, DBD sudah menjadi “langganan” setiap tahun. Angka kejadiannya paling tinggi pada musim penghujan yaitu sekitar bulan Februari, Maret, dan April. Di pedesaan, peningkatan kasus sudah mulai terjadi di bulan Desember, sedangkan untuk perkotaan, puncak terjadi pada bulan Mei-Juni.
Gejala

Bisa dimengerti mengapa Mira tidak puas mendengar jawaban dokter. Bila demam baru satu hari, demam berdarah memang sulit dibedakan dengan demam yang disebabkan penyakit lain seperti influenza, sakit tenggorokan, atau tipes karena gejalanya amat mirip.

WHO pada tahun 1997 telah membuat pedoman yang bisa membuat kita curiga adanya demam berdarah:

1. Demam mendadak tinggi 2-7 hari
2. Adanya gejala perdarahan, misalnya bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang meski kulit diregangkan, gusi berdarah, mimisan, dan tinja berdarah. Bintik-bintik merah di kulit bisa muncul sendiri atau dibuat muncul dengan uji bendung. Biasanya uji bendung dilakukan dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah yang digembungkan di seputar lengan hingga pembuluh darah tertekan. Bila positif, akan muncul bintik-bintik merah.
3. Ada pembesaran hati.
4. Terjadi syok: denyut nadi lemah dan cepat, tekanan darah turun, anak gelisah, tangan dan kaki dingin.
5. Pemeriksaan laboratorium: trombosit turun dan terjadi kenaikan kekentalan darah. Ditandai dengan trombosit kurang dari 100.000/µl dan hematokrit meningkat 20% lebih tinggi dari normal.

Trombosit turun belum pasti demam berdarah

Pemeriksaan Trombosit dan hematokrit merupakan tes awal sederhana yang bisa membuat kita curiga adanya demam berdarah. Trombosit adalah sejenis sel darah yang diperlukan untuk pembekuan darah. Jika nilainya turun, maka tubuh menjadi mudah berdarah seperti mimisan, gusi berdarah, dan sebagainya. Jumlah trombosit yang normal adalah sekitar 150-200.000/ µl. Ingatlah bahwa trombosit yang turun bisa pula terjadi pada penyakit lain seperti campak, demam chikungunya, infeksi bakteri seperti tipes, dan lain-lain. Pada demam berdarah, trombosit baru turun setelah 2-4 hari. Bila demam baru satu hari sedangkan trombosit sudah turun, patut dicurigai apakah laboratoriumnya yang salah, orang tua salah menghitung hari demam, atau penyakit itu bukan DBD.

Hematokrit menunjukkan kadar sel darah merah dibandingkan jumlah cairan darah. Untuk anak Indonesia, nila Hematokrit yang normal adalah sekitar 37-43%. Pada DBD, hematokrit meningkat. Lha kita kan tidak tahu nilai hematokrit anak sebelum sakit? Untuk mudahnya, ambil saja patokan bahwa nilai hematokrit lebih dari 40% dianggap sebagai meningkat. Apalagi kalau lebih dari 43%. Mengapa hematokrit meningkat? Karena terjadi perembesan cairan ke luar dari pembuluh darah sehingga darah menjadi lebih kental. Hematokrit yang meningkat merupakan hal penting karena dapat membedakan DBD dengan infeksi virus yang lain.

Untuk lebih pastinya, demam berdarah memerlukan pemeriksaan yang lebih khusus seperti menemukan virus dengue, atau uji reaksi antibodi dan antigen.

Pemeriksaan darah terlalu dini tidak banyak gunanya

Pemeriksaan darah yang dilakukan terlalu dini (misalnya demam baru satu hari) belum bisa memperkirakan apakah benar anak terkena DBD, karena trombosit dan hematokrit masih normal. Bila demam telah berlangsung sekitar 3-4 hari, barulah hematokrit meningkat dan trombosit mulai menurun. Terkadang, pemeriksaan ditambah pula dengan tes Widal untuk menyingkirkan tipes (seperti yang ditawarkan berbagai paket laboratorium), padahal ini belum diperlukan sebelum 7 hari.

Masa kritis

Prinsipnya, orang tua harus benar-benar menghitung hari, sejak kapan anaknya demam. Satu hari berarti satu hari penuh atau 24 jam setelah mulainya demam. Karena dengan begitu, bisa ditentukan kapan anak masuk dalam fase kritis yang merupakan momok mengerikan pada DBD. Pada DBD, demam biasanya akan turun setelah berlangsung 3-4 hari. Namun, justru pada saat demam turun anak dapat masuk ke masa kritis, atau sebaliknya sembuh tanpa komplikasi apapun.

Orang tua justru harus waspada pada saat demamnya turun. Pada anak yang masuk masa kritis, pada saat demam turun, ujung-ujung jari teraba dingin, denyut nadi kecil dan cepat serta tekanan darah menurun dan anak tampak lemas. Semua ini terjadi akibat cairan merembes ke luar dari pembuluh darah. Anak seolah-olah kekurangan cairan darah dan sirkulasi tubuh menjadi gagal berfungsi. Akhirnya anak mengalami syok. Tandanya, kulit teraba dingin terutama ujung jari dan kaki, biru di sekitar mulut, anak gelisah sekali dan lemas, nadinya lemah dan cepat bahkan bisa tidak teraba denyutnya.

Selain syok, dapat pula terjadi perdarahan. Yang paling sering adalah perdarahan saluran cerna, ditandai dengan buang air besar berdarah, akibat trombosit yang rendah ataupun karena syok yang berkelanjutan. Kedua keadaan ini memerlukan penanganan sangat serius dan intensif karena merupakan keadaan sangat gawat.

Namun, untungnya tidak semua anak yang terkena DBD akan mengalami hal yang seram tersebut. Sebagian besar anak akan cepat kembali normal dan sembuh seperti sedia kala setelah fase kritis ini lewat.

Apakah harus dirawat?

Penyebab demam kan belum tentu DBD? Jadi anak yang baru demam biasa selama 1 hari tidak perlu dirawat di rumah sakit. Tapi ada catatannya: Orang tua harus dapat memantau perkembangan penyakit anak di rumah dan kembali kontrol ke dokter. Di rumah, anak harus dipastikan minum banyak cairan dan dipantau suhunya setiap hari. Dokter seharusnya meminta orang tua untuk datang kembali kontrol setelah demam berlangsung 3 hari, dan melakukan pemeriksaan Hemoglobin, trombosit dan hematokrit setiap hari berikutnya. Bila hasil laboratorium menunjukkan ada tanda-tanda penurunan trombosit (kurang atau sama dengan 100.000/µl) atau peningkatan hematokrit (lebih dari 40%), barulah anak harus masuk rumah sakit.

Apalagi kalau setelah 3 hari demam tidak turun juga atau muncul gejala demam berdarah seperti mimisan, gusi berdarah, muntah, lemah, anak gelisah, jangan tawar lagi. Segera masuk rumah sakit.

Kapan anakku boleh pulang dari rumah sakit?

Perawatan demam berdarah tidak memerlukan waktu yang lama. Asalkan fase kritis sudah lewat, orang tua boleh lega. Umumnya, dokter memperbolehkan pulang bila anak sudah tak demam satu hari tanpa pertolongan obat, nafsu makannya membaik, anak tampak makin sehat, hematokrit membaik, trombosit lebih dari 50.000//µl. Dan bila anak mengalami syok, dokter akan memulangkannya tiga hari setelah masa syok lewat.

MITOS DAN FAKTA DBD

· Demam plus perdarahan sama dengan DBD (salah)
Diagnosis DBD perlu memperhatikan kriteria WHO yaitu: ada demam tinggi, ada perdarahan, ada pembesaran hati, dan perembesan cairan darah.

· Bila uji bendung positif sudah pasti DBD (salah)
Uji bendung bisa juga positif pada penyakit lain, bahkan pada anak yang tidak sakit sekalipun.

· DBD merupakan penyakit yang hanya menyerang anak-anak (salah)
Semua umur (bayi hingga orang tua) dapat terkena DBD

· DBD hanya menyerang orang yang tinggal di perumahan kumuh atau sosial ekonomi rendah (salah)
Semua orang dari kalangan mana pun bisa terkena DBD

posted under Uncategorized
One Comment to

“RS sebagai rumah ke dua ketika anaku kena demam berdarah”

  1. On July 25th, 2009 at 2:15 am Wahyu Says:

    Kalo opname dgn simple tidak bikin Miskin di Bdg model PKS aja mas.
    Bisa pks dr tempat kerja atau mengambil asuransi.

    Sudah beberapa kali saya nginep dirumah sakit dgn model ini. Sangat simpel. Cukup pake Kartu pegawai atau kalau asuransi cukup pakai kartu asuransi.
    No coast!..

    Tinggal bawa badan nanti minta surat jaminan dari kantor atau call asuransi kita dirawat dimana.

    Sudah itu kalo sudah sehat, sign form. Tidak perlu bayar dan pulang.
    Simple kan.

    Kalo kelas biasanya tergantung fasilitas kantor.
    Dikami sy dpt fasilitas klas-I. Makin tinggi jabatan akan dpt fasilitas yg baik lagi. VIP atau VVIP.

    Sedangkan asuransi karena anak saya yg ke-4 tidak ditanggung kantor maka saya ambil asuransi yg optimal.

    Kalo kesehatan aja biasanya berlaku 1 thn pake gak kepake hangus.
    Tapi saya dpt asuransi pendidikan dengan kesehatan sebagi bonusnya.

    Dan musti diingat..
    Cari asuransi kesehatan yg denga fasilitas Double Cover !

    Artinya bila semua 3 anak saya yg lainnya yg telah ditanggung kantor saya ikutkan pada asuransi luar.
    Maka bila mereka terpaksa opname..
    Dan kita dpt uang!.
    Biaya opname tetap dibayar kantor.

    Lalu asuransinya gimana?
    Kita bisa copy legal dr RS untuk diklaimkan ke asuransi bahwa anak kita di opname.

    Dan asuransi akan membayar biaya itu ke kita sebagai benefit double cover. Gak ada istilah sehabis sakit Miskin loh..

    Buang pikiran itu!
    Karena dgn Double Cover Ini Malahan dapat uang.

    Ok Ini bukan soal tamak atau rakus..
    Karena pada awal ikut,
    klausul itu memang diperbolehkan dan dipromosikan mereka sebagai benefit/manfaat bagi kita.

    Biaya lain diluar biaya perawatan RS tentu ada, misal anak perlu diberi hal yg dia sukai, entah makan,buku,baju,tas, mainan dan makan, transport, call2an dan lain2. Banyak deh..$
    Biaya itu tidak sedikit loh.

    Dan perlu diingat itu uang yg kita tanamkan..
    Untuk anak ke4 ini saya mengambil Prudential.

    Ada hal yang lebih enak lagi dgn asuransi..
    Klas perawatan bisa kita tentukan sendiri dr jumlah sentoran premi.
    Jadi gak perlu naik pangkat dulu loh.
    Boleh jadi bawahan namun fasilitas Bos!.

    Tapi kalo Nilai yg dibayar kekita yaa
    Ditentukan dr Nilai yg ditagihkan ke kantor… :-)
    Klausulnya gitu sih..

    Kemudian dgn PKS.
    Rumah sakit pun apabila melihat kita sebagai peserta dlm pks mereka, baik dr kantor atau asuransi.
    Bila dipandang bonafide , kita akan selalu diperhatikan.

    Hal ini sudah saya alami baik dibandung atau balikpapan dulu.
    Dan enaknya kita bisa menentukan dr list RS yg ber-PKS, RS mana yang sesuai dengan yg kita sukai.

    Kalo di Bdg saya sangat senang dgn RS Sentosa di Stasiun. Bersih lega dan profesional.. Servis dan layanan hotel.. Fasilitas lengkap dan yang penting mudah diakses namun tenang.

    Namun favorite istri saya adalah RSAI karena dekat rumah!
    Walaupun Gedung masih standar dan cenderung tambal sulam namun pelayanan ramah.

    Ok tks.

Email will not be published

Website example

Your Comment:

 
// // added //
// // added //