Milih earphone, headset, cara saya !
Posted on : 12-12-2008 | By : admin | In : Gadget
Sebenarnya sudah lama ingin beli earphone atau headset. Tapi setiap kali menemukan earphone di lokasi penjualan, penjual hampir tidak pernah menyediakan earphone untuk di test. Kalau pun ada, itu khusus untuk earphone tingkat rendah mereka. Ya, bagaikan beli kucing dalam karung lah.
Sempat mencoba earphone merk, tapi rasanya kurang keluar treble-nya, sampai kemarin, seorang sejawat merekomendasikan sebuah earphone merk philip. Sayang tidak bisa mengetahui tipenya. Padahal suaranya sudah asik. Setelah tanya tempat pembelian, malam itu jadi juga ke BEC, dan toko wa$#ng ga%@et itu pun ditemukan. (maaf, bukan promosi).
Celingak celinguk (bukan mau nyuri lho), sambil memutar-mutar pajangan headphone philip, saya bertanya :
Saya : Mas, mas, kalau headphone ini, apa bedanya dengan yang itu (sambil menunjuk dua tipe headphone yang beda)
Mas : Oh, saya lihat frekuensinya sama saja. Cuma yang ini pake pengatur volume, dan casing (tempat bawa-bawa) yang ini ngak.
Saya : [Hi hi hi, yang jual ngak tahu spesifikasi, padahal yang beda di ukuran ohm impedansi nya.]
Mas : Yang ini dikasih ear cap cadangan
Saya : [Hi hi hi, padahal itu kan bukan cadangan, tapi earcap berbeda ukuran, agar sesuai dengan lubang telinga]
Mas : Sebenarnya sih ada yang lebih baik, harganya Rp ###.000, tapi modelnya in-ear, jadi ngak ada cantelan ke telinganya, jadi kurang cocok dipakai jogging. Tapi sekarang barangnya lagi kosong.
Saya : Garansi kan mas ? Kan philips……
Mas : Wah, yang ini ngak ada garansi mas. Kecuali kalau mas pilih merek $#@$#%, tapi kalau suara sih, bagusan philips.
Saya : Ok deh mas, kalau gitu nanti aja tunggu yang itu datang
Mas : Mas mau tinggalin telepon, biar nanti di telepon kalau barangnya datang. Sekitar 2 minggu lagi deh. Soalnya ngabisin barang dulu, baru kita pesen lagi.
Saya : Ah, biar saja saya yang datang lagi.
Mas : Ok, terima kasih pak.
Saya pun akhirnya cari ke toko lain.
Saya : Bang lihat earphone yang sony walkman itu
Abang: Ini pak ?
Saya : Iya, berapa bang ?
Abang: Rp. 25.000 pak
Saya : [Lho koq murah amat ....?] Ow, bukan asli ya pak ?
Abang: Iya
Saya : Lihat philips yang itu deh bang. Yang itu asli kan ?
Abang: Oh iya, yang ini asli.
Saya : [Kayaknya yang ini deh, soalnya lebih mahal, terus menjual kata-kata “HIGH DEFINITION:, pasti lebih bagus dari yang tadi yang mengusung kata-kata “PREMIUM SOUND”
Saya : Ok deh, yang ini saja bang.
Akhirnya dapat.
Tapi harganya lebih mahal Rp. 10.000 dari toko tadi. Ditawar, cuma dikurangi Rp. 5000. Ya sudahlah, saya sudah capek untuk keliling ke toko lain untuk mencari yang lebih murah. Akhirnya saya jadi beli headphone philips tipe SHE9700 High Definition Sound (HD).
Kenapa sih milih tipe itu ?
Sebenarnya memilih headphone harus disesuaikan dengan aplikasinya, digunakan di rumah, mobile (bergerak), berkabel, atau tanpa kabel. Saya memilih tipe in-ear karena memang digunakan mobile sehingga harus cukup kecil untuk dibawa-bawa.
a. Jenis earphone : in-ear headphone, headphone jenis ini adalah headphone yang dijejalkan ke dalam telinga. Dan dilapisi karet untuk kenyamanan telinga dan untuk meredam suara lain dari luar, sehingga tidak ikut masuk. Semacam menciptakan ruang kedap suara di dalam telinga.
b. Headphone ini memiliki lubang udara di belakangnya. Lubang udara ini diperlukan untuk menciptakan efek bass yang dalam
c. Didesain untuk mengirimkan suara high-definition dengan sudut tertentu, (Angled Accoustic Pipe Design) sehingga mengisolasi / meredam suara dari lingkungan yang bising.
d. Frekuensi 6-23.500 Hz. Hal ini mengindikasikan frekuensi suara yang dapat direspon oleh earphone. Semakin lebar frekuensi dapat diartikan semakin lebar pula reproduksi suara yang bisa dikeluarkan oleh earphone. Semakin lebar jangkauan (range) frekuensi, maka suara yang dihasilkan akan semakin kaya. Mulai dari suara dengan frekuensi rendah (bass) sampai suara tinggi (treble)
e. Impedansi : 16 ohm. Nah yang ini harus disesuaikan dengan peralatan yang mengeluarkan suaranya, untuk memastikan bahwa power suara yang dialirkan ke earphone akan optimum. Biasanya earphone dengan impedansi rendah (misalnya < 100 ohm) direkomendasikan untuk mobile player dan PC sound card. Sedangkan headphone dengan impedansi lebih tinggi, cocok digunakan untuk peralatan hi-fi rumah, amplifier, dan peralatan professional lainnya.
f. Maksimum power output : 50mw
g. Precise fit and sealing. Masuk secara pas dan natural ke dalam telinga. Sedangkan earbud (earcap) akan mengisolasi secara pasif suara-suara bising lain yang tidak diinginkan dari lingkungan sekitar, pada volume suara rendah.
Sebenarnya ada satu lagi yang patut diperhatikan, tapi tidak dicantumkan oleh philips, yaitu THD (Total Harmonic Distortion), yaitu ukuran sinyal yang tidak diinginkan sebelum dikonversi oleh earphone menjadi suara. Karena THD ini tidak bisa seluruhnya dieleminasi, maka earphone yang baik setidaknya memiliki THD < 1%.
Acessories I love :
1. Cabel extension (perpanjangan), dengan socket 3.5mm stereo berlapis emas, untuk memastikan aliran listrik (suara) yang dialirkan berjalan lancar. Masing-masing kabel memiliki panjang 60cm, sehingga total 1,2m.
2. Dompet untuk membawa-bawa earphone ini. Karena bentuknya yang kotak, akhirnya saya dipakai untuk menyimpan MP3 player sekaligus headphone ini.
3. Diberikan 3 ukuran caps yang dapat dipilih, sehingga bisa disesuaikan dengan ukuran lubang telinga yang berbeda-beda.
4. Asymmetric cabling system
Kabel yang berbeda panjang antara earphone kiri dan kanan, memungkinkan penggantungan kabel di belakang leher dibandin di bawah dagu.
Bagi yang pernah beli earphone dengan bentuk fisik yang sama, tapi harganya jauh lebih murah, yakinlah, kualitas suara akang sangat beda jauh. Saya pernah coba. Koq bisa beda ?
Sebenarnya perbedaan teknologinya ada dua :
1. Neodymium magnet
Neodymium adalah meteri produsen medan magnetik yang kuat untuk dapat menciptakan coil (gulungan kawat) pencipta suara yang sensitif, dan memiliki respon bass yang lebih baik, dan suara berkualitas tinggi secara keseluruhan
2. CCAW voice coil
Dengan menggunakan kabel Copper Cladded Aluminium Wire (CCAW) dalam driver’s voice coil headphone, maka kualitas suara menjadi lebih baik secara signifikan.
Hanya satu yang menjadi peringatan, sebelum mempergunakan headphone.=, yaitu kebiasaan memainkan bass dan treble di earphone bisa merusak telinga. Menurut laporan raksasa EU Eropa yang bertajuk “Committee on Emerging and Newly Identified Health Risks”, riset yang dilakukannya memperlihatkan bahwa mereka yang mendengarkan MP3 player-nya selama lebih dari lima jam per hari pada volume tinggi (89 desibel tepatnya) beresiko kehilangan pendengaran dalam tempo lima tahun. “Temuan sains ini menunjukkan resiko yang jelas dan kami perlu memberikan reaksi dengan cepat,” kata Meglena Kuneva (EU Consumer Affairs Commissioner).
Memang sebuah earphone bisa memiliki suara yang nyaring, bulat, dan jelas suaranya, tetapi juga bocor begitu parahnya sehingga terdengar dari jarak tiga meter. Namun agar bisa menikmati musik saat di dalam bus atau di jalan yang agak ramai, Anda (secara tidak sadar) mengencangkan volumenya sampai batas atas untuk mengeliminir suara lain dari luar.
Sebuah situs menjelaskan hal ini dengan baik.
Mengapa bisa begitu? Sebuah ciri penting gelombang ialah panjang gelombang, yaitu panjangnya satu siklus lengkap mulai dari naik, lalu turun, menanjak lagi sampai ketinggian semula. Di pihak lain, frekuensi menyatakan berapa sering naik turun itu terjadi dalam satu detik. Hubungan di antara keduanya berkebalikan. Gelombang pendek berkaitan dengan frekuensi tinggi, gelombang panjang menunjukkan frekuensi rendah.
Di dunia musik, frekuensi mengungkapkan nada. Misalnya nada acuan A dengan frekuensi 440 Hz (Hertz = getaran per detik) terdengar lebih tinggi dari pada C-tengah 261,6 Hz.
Ada yang menarik pada musik akustik, yaitu semakin kecil instrumen, semakin tinggi nada yang keluar. Perhatikan panjang pendeknya suling. Atau keluarga besar biola, biola alto, cello, sampai contrabass, yang semua sama potongannya, tetapi berbeda “size” dan tinggi nadanya. Prinsipnya, ukuran instrumen harus sesuai dengan panjang gelombang yang dibangkitkan. Ini juga berlaku pada penerimaan gelombang. Pokoknya supaya gelombang bisa dipancarkan dan ditangkap dengan baik, besarnya alat harus dekat dengan panjang gelombang.
Pembagian Tugas
Berapa panjang gelombang suara? Pada daerah atas pendengaran manusia, gemerincing nada tinggi atau “treble” mempunyai panjang gelombang kurang dari sekitar 15 cm. Pada ujung bawah, dentuman suara bas bergemuruh pada panjang gelombang lebih dari 1 m. Nada-nada menengah berkiprah di antara keduanya.
Tidaklah mungkin menghayati musik sampai mata terpejam-pejam jika mengandalkan satu “loudspeaker” saja buat semua frekuensi. Harus ada pembagian tugas. Untuk treble, dipasang loudspeaker kecil yang disebut “tweeter”, dengan diameter sekitar 3 cm. Lalu agar suara menengah terdengar cerah, loudspeakernya berdiameter sekitar 10 cm.
Yang susah adalah urusan nada rendah, sebab loudspeaker bas yang disebut “woofer” idealnya mesti puluhan sentimeter besarnya. Tidak saja sukar dibuat, tetapi kotak atau petinya pasti berebut tempat dengan perabot rumah. Karena itu diameter woofer yang lazim adalah 25-30 cm.
Bagaimana manusia mendengarkan semua itu? Bukankah penampang lubang telinga dan gendang telinga hanya sekitar 1 cm? Kalau dicocokkan dengan panjang gelombang suara, sepertinya yang langsung dicerna frekuensi tinggi saja. Bagaimana nasib nada menengah, apalagi bas?
Menggelegar
Jangan kuatir, telinga tidak berada sendirian, tetapi terpasang di dalam tengkorak kepala, yang ditunjang kukuh oleh tulang belulang tubuh.
Pada saat nada menengah dan rendah menyapa manusia, telinga memang tidak banyak berdaya. Tetapi untunglah, peran mengindera dibantu oleh sekujur tubuh kita. Berkat ukuran badan yang tidak jauh dari panjang gelombang menengah dan bas, nada-nada itu meresap sebagai getaran pada tulang belulang. Pada gilirannya, getaran tersampaikan ke tengkorak kepala dan dirasakan oleh perangkat telinga, sehingga orang bisa mendengarnya. Frekuensi tinggi langsung diterima telinga, frekuensi menengah dan apalagi rendah didengar dengan bantuan tubuh.
Jika dikatakan “Wah, suara basnya menggelegar, terasa mantap dalam dada”, itu memang betul. Karena badan terkocok getaran dan jantung ikut merasakan. Juga sikap yang bijaksana jika orang agak lanjut usia tidak diajak mengunjungi diskotek atau konser rock. Bukan soal supaya kelakuan remaja tidak diawasi terus oleh orang tua, tetapi “bisa lepas jantungnya” adalah kata-kata yang kiranya tidak terlalu meleset.
Sekarang kalau orang memakai earphone (jenis kecil yang disusupkan ke lubang kuping), yang menangkap suara hanya telinga tanpa melibatkan badan. Tentu saja suara bas serasa melayang. Lantas buat meraih bas yang mengguncang, timbul kecenderungan untuk mengencangkan suara, menaikkan volume. Padahal mungkin sekali intensitas suara sudah mencapai atau bahkan melampaui batas bahaya untuk telinga. Belum juga terdengar menggelegar, dikeraskan lagi.
Janganlah menghajar telinga, instrumen super halus yang belum ada gantinya. Sebagai alternatif yang terkesan lucu, jika anda ingin menikmati musik dengan radio baterai yang kurang besar, dengarkan sambil mendekap radio itu di dada. Niscaya tulang ikut digetarkan, membuat suara bas lebih meyakinkan.
Jadi para pembaca, kabarkan pada rekan, sahabat, teman, mitra kerja, kerabat dan juga tentunya Anda sendiri bahwa menjejalkan earphone ke liang telinga perlu pengendalian diri. Jika tidak, jangan salahkan siapa-siapa jika kelak pendengaran Anda makin memburuk, alias tuli.



nice tutorial men.
@staniwan
Semoga bermanfaat….
waduh,sangat bermanfaat sekali ketika saya membaca artikel ini karena saya ingin membeli headphone philips.trims atas saran”nya.tp apa lbh aman kl memakai headphone yang besar tidak mentup liang telinga?seperti tipe philips yg saya ingin beli SHP 1900.trims….
@ Wilman
keamanan sebuah headphone untuk telinga tidak dilihat dari sisi ukuran fisik headphone, melainkan volume suara (diukur dalam satuan decibel) yang sampai ke telinga.
Kelebihan full-size headphone seperti SHP1900 memiliki kemampuan meredam suara luar lebih baik dibanding yang lain. Dan desainnya dibuat untuk tetap memberikan kenyamanan pada telinga walaupun digunakan dalam jangka waktu yang lama.
Paling tidak jika kemampuan redaman nya lebih baik, maka tidak perlu mengeraskan suara untuk mengeliminir suara gangguan dari luar.
Good info.
Trus satu pertanyaan nih mas..
Ada 2 headphone yang mo saya beli.. yaitu A dan B
yang A :
range = 18 – 21000 H
sensitivity = 112 dB
yang B :
range = 6 – 23000 Hz
sensitivity = 106 dB
Bisa recommend g, yang mana yang lebih baik kalo dari spesifikasi singkat di atas, yang A atau yang B ?…
thx in advance.
@ yudha
Kalau saya akan memilih yang B
ok, thx bro
wow nice advice..!!!!k
kebetulan saya mau tanya nih,kmr saya tanya2 d toko sbuah mall
mereka tawarkan produk wellcomm.
kira2 bagus ga ya??saya lupa speck nya euy…
trus klo mas beli dmn tuh??klo pas harganya ya knp tidak…:)
thanks
[...] http://audiofamers.blogspot.com/ http://ishak.unpad.ac.id/?p=594 [...]
[...] Impedansi speaker umumnya 4 ohm, 8 ohm, dan 16 ohm. (rentalonline.blogspot) Impedansi headphone umumnya umumnya 16-32 ohm. (forum.cross-written.com) Impedansi earphone umumnya 16-32 ohm. (ishak.unpad.ac.id) [...]
great info! thanx yaa
mungkin bisa di coba produk MDISK klo earphonnya yang jadi jagoan sekarangini MD005
Bassnya deep, vocal sangat tebel dan basah, highnya smooth, dan claritynya juga enak…
@Headphone bagus
Terima kasih informasinya. Mungkin untuk menentukan bagus tidaknya sebuah produk, perlu dilakukan uji teknis ilmiah, sehingga daya ukurnya bukan telinga, melainkan apakah spesifikasi yang tertera tersebut terbukti atau tidak. Setelah itu baru mencari produk sejenis, lalu bertanding. Disitu baru akan ada kata “bagus” atau “tidak bagus”