Flower Power – Ishak

Life Journal of Ishakq in UNPAD

Memilih bahan bakar tepat untuk motor

August17

Pengendara motor pasti pernah mengunjungi SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) untuk memberi minum kuda kendaraannya.

Beberapa produsen dari bahan bakar motor yang tersedia di Indonesia :

1. Pertamina

- Premium (octane : 88, Compression : 7:1-9:1)
- Pertamax (octane : 92, Compression : 9:1-10:1)
- Pertamax plus (octane : 95, Compression : 10:1-11:1)
- Bio Pertamax

2. Shell


- Shell Super

- Shell Super Xtra
- Produk shell.

3. Petronas (Petroliam Nasional Berhad)

- Petronas Prima 88 (yang ini tidak dijual di indonesia)
- Petronas Primax 92
- Petronas Primax 95
- Produk lain

PetronasFlyer500

Biasanya setiap SPBU akan menyediakan lebih dari satu jenis produk bensin. Hal tersebut dilakukan karena setiap mesin kendaraan bermotor membutuhkan jenis bensin yang sesuai agar membuahkan kinerja dan usia pakai yang paling optimal.

Perbedaan dari masing-masing bahan bakar tersebut selain harga adalah kadar oktan yang terkandung dalam bensin. Nilai oktan merefleksikan kualitas, kemurnian, refinement, efisiensi dan kapasitas menahan panas dari bahan bakar. Nilai oktan bahan bakar bervariasi antara 87, 88, 89, 90, 91, 93 and 97. Semakin tinggi kadar oktan mengartikan bahwa semakin mahal harga bensin tersebut. Semakin tinggi kadar oktan, maka bensin semakin lambat terbakar karena titik bakarnya lebih tinggi, begitu pula sebaliknya. Namun, dengan teori seperti ini, bukan berarti kita bisa melakukan sebuah percobaan dengan menyulut api ke berbagai jenis bensin, karena yang dimaksud dengan titik bakar ini bukanlah seberapa cepat api menyambar bensin, akan tetapi berhubungan dengan perbandingan kompresi mesin. Disini bisa dikatakan kadar oktan bensin berhubungan erat dengan perbandingan kompresi mesin. Semakin tinggi angka perbandingan kompresi mesin, membutuh bensin berkadar oktan yang tinggi pula. Maka dari itu cermatilah seberapa tinggi angka perbandingan kompresi mesin.

Jika kita cermati spesifikasi kendaraan kita (mobil atau motor) pada brosur yang baik akan menampilkan informasi rasio kompresi (Compression Ratio / CR). CR ini adalah hasil perhitungan perbandingan tekanan yang berkaitan dengan volume ruang bakar terhadap jarak langkah piston dari titik bawah ke titik paling atas saat mesin bekerja. Tapi untuk dapat menghitung lebih akurat mengenai compression ratio, dapat dilihat pada halaman ini.

Sedangkan untuk menghitung kebutuhan oktan secara akurat dapat dilihat pada halaman ini.

Walaupun demikian, menurut Halaman 19 Tabloid Otomotif Edisi 46:XV tanggal 20 Maret 2006 tes perbandingan kualitas bensin Shell, Petronas dan Pertamina dengan Zeltex ZX-101C untuk menguji kadar oktan dari masing-masing tipe bensin (tingat deviasi kurang lebih hanya 1%.) menghasilkan perbandingan oktan sebagai berikut :

Shell Super 92 = 92,9
Shell Super Extra 95 = 96,1

Petronas Primax 92 = 92,9
Petronas Primax 95 = 96,1

Premium = 90,6
Pertamax = 93,4
Pertamax Plus = 97,9

Berdasarkan hasil pengujian diatas, terbukti bahwa Pertamax Plus lebih unggul dibandingkan dengan Shell Super Extra 95 dan Petronas Primax 95. Disisi lain, Pertamax lebih unggul dibandingkan Shell Super 92 dan Petronas Primax 92.

Setelah tahu nilai oktannya lantas, bagaimanakah memilihnya ?

Apa yang terjadi jika bahan bakar lebih rendah oktannya (RON)?

Kata kunci : Semakin tinggi nilai CR (compression ratio ) pada mesin artinya membutuhkan bensin bernilai oktan tinggi.

Di dalam mesin, gerakan (tekanan) piston akan memampatkan bensin. Kompresi mesin yang tinggi dapat membuat bensin dengan oktan rendah terbakar , padahal menurut teori, seharusnya bensin harus terbakar setelah mendapatkan percikan api dari busi (bukan karena tekanan). Ketika hal ini terjadi, maka bensin terbakar lebih awal (karena tekanan) sebelum busi memercikkan api. Akibatnya piston yang sedang bergerak ke atas dan belum mencapai puncak, dipukul keras untuk kembali ke bawah oleh ledakan ruang bakar tersebut. Jika hal ini terjadi maka umur piston akan semakin pendek oleh tamparan ledakan bensin karena arahnya berlawanan.

Kondisi ini sangat tidak menguntungkan karena pada saat bensin terbakar, piston mesin masih bergerak menuju (bukan di posisi) titik timing letik busi yang sudah ditentukan, alias terlalu cepat terbakar. Efek yang terasa adalah gejala ngelitik pada mesin atau istilah kerennya adalah knocking.

Ini simulasi di mana anda bisa berinteraksi dengannya. Silakan geser slidenya, click pada opsinya.

Suara yang kita dengar sebagai “knocking” (istilah Indonesianya: ketuk) sebenarnya adalah pertemuan dua lidah api dari dua ledakan dari dua pembakaran yang terjadi berurutan. Satu pembakaran terjadi dari ledakan spontan bensin beroktan rendah, satu lagi dari pembakaran yang memang semestinya terjadi oleh busi (setelah pembakaran spontan yang salah tersebut, dengan bahan bakar belum semuanya menyala, busi memercikkan apinya). Ketuk ini memberi tekanan yang sangat besar pada piston dan klep (dan juga dinding silinder), dan dalam jangka panjang, akan merusak mesin. Pembakaran spontan (prematur) tersebut juga mengurangi efisiensi mesin karena ekspansi gas dari pembakaran terjadi mendahului saat dimana ekspansi tersebut diinginkan untuk menekan piston turun (power stroke).

DoubleCombustion

Agar kedua ledakan /pembakaran tidak saling tubruk, maka timing dimajukan. Jadi pembakaran yang semestinya terjadi justru mendekati waktu pembakaran yang keliru. Maka terhindarlah dua lidah api bertemu dari dua ledakan. Tentu saja tindakan ini akan menurunkan efisiensi mesin. Silakan coba: Mundurkan timing pada kendaraan yang masih bisa disetel manual. Akan didapatkan jarum penunjuk temperatur mesin naik sedikit pada temperatur operasi.

Pada kendaraan dengan knocking sensor, terdapat sensor getaran pada dinding mesin. Bila sensor ini mendeteksi getaran pada frekuensi yang tidak normal (dideteksi sebagai ketuk), ECU (atau vacuum pada mesin lama) akan menarik timing maju, dan mungkin akan menyesuaikan aliran bahan bakar.

Apa yang terjadi jika bensin yang dimasukkan memiliki oktan lebih tinggi dari ideal ?

Jika sebuah mesin diisi dengan bahan bakar beroktan lebih tinggi dari yang dibutuhkan, maka hal tersebut tidak pula memberikan efek yang semakin positif karena sudah lebih dari cukup. Tentunya gajala knocking tidak akan terjadi, tapi juga tidak membuat performa kendaraan menjadi meningkat, karena pada waktu yang sudah ditentukan, bensin akan tetap terbakar oleh percikan api dari busi berapapun tinggi nilai kadar oktannya. Jangan membuang uang Anda untuk membeli bensin berkadar oktan melebihi permintaan, kecuali Anda sudah melakukan modifikasi sehingga perbandingan kompresi mesin Anda menjadi lebih tinggi.

Terakhir, rasio kompresi bukan satu-satunya penentu angka oktan yang diperlukan. Bentuk ruang bakar, desain mesin, bentuk kepala piston, perbandingan campuran bahan bakar, aliran masuk bahan bakar (dan manajemen alirannya serta fitur seperti cyclone, valve deactivation, variable valve timing, turbocharger /supercharger, gasoline direct injection, dll) juga bisa mengubah kebutuhan oktan naik /turun. Jadi sebaiknya dilihat buku petunjuk (manual kendaraan) mengenai kebutuhan oktan. Termasuk apakah kendaraan boleh menggunakan bahan bakar bertimbal, menambah aditif, dll.

Singkatnya, menurut situs ini, Hubungan antara compression ratio dengan nilai oktan adalah sebagai berikut :

Compression – Octane Number

5:1 – 72
6:1 – 81
7:1 – 87
8:1 – 92
9:1 – 96
10:1 – 100
11:1 – 104
12:1 – 108

Koq begitu saja repot banget ? Ya Jelas, karena berpengaruh kepada tenaga.

Mari saya jelaskan dua istilah. Torque dan power.

Torque (atau juga disebut torsi / moment) sebenernya adalah kekuatan berputar (disebut juga ‘rotational force’ atau ‘angular force’.Satuan torque adalah Newton Meter atau lbs ft (’pound feet). Dari definisi ini, maka rumus torque adalah :

torque = F x r

F = satuan Newton

r = satuan meter.

Ilustrasi berikut berupa membuka baut dengan kunci inggris, dapat dijelaskan yaitu kekuatan dikali dengan jarak maka sama dengan torsi. Dalam implementasi sehari-hari terutama pada engine motor, adalah kekuatan dorongan piston dan jarak berputarnya.

Sedangkan power yang dihitung dengan satuan Kw (Kilo watts) atau Horse Power (HP) mempunyai hubungan erat dengan torque. Power dirumuskan sbb :

Power = torque x angular speed.

Rumus diatas adalah rumus dasarnya, pada engine maka rumusnya menjadi :

Power = torque x 2 phi x rotational speed (RPM).

Untuk mengukur Power (KW) adalah sbb :

Power (kW) = torque (Nm) x 2 phi x rotational speed (RPM) / 60000

6000 dapat diartikan adalah 1 menit = 60 detik, dan untuk mendapatkan kw = 1000 watt.

sedangkan untuk mengukur Power (HP) adalah sbb :

Power (HP) = torque (lbs. ft) x rotational speed (RPM) / 5252

atau dapat juga mencari KW dulu kemudian konversi ke HP

Dari persamaan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa power memiliki korelasi dengan torsi. Torsi sangat dipengaruhi dengan engine yang mendorong piston (dipengaruhi unsur F). Sewaktu terjadi ledakan di combustion chamber itulah F dihasilkan. Jadi semakin besar cc nya..biasanya semakin besar F yang dihasilkan. Tapi ini juga dipengaruhi oleh compression ratio…

Torsi untuk akselerasi dan power untuk top speed… Dan final perhitungan juga harus memasukkan berat kendaraan dan berat ridernya.. so dikenal dengan power to weight ratio.

Referesi lebih jauh : di sini

Disclaimer : Gambar adalah milik dari pemiliknya masing-masing. Ditayangkan hanya sebagai referensi.

posted under Automotive
8 Comments to

“Memilih bahan bakar tepat untuk motor”

  1. On October 12th, 2009 at 5:19 pm Flower Power – Ishak » Blog Archive » Kenapa memilih motor Honda Supra X 125 PGM-FI ? Says:

    [...] PRANATA DALAM 1. Penjelasan Fuel Injection. 2. Memilih bahan bakar. [...]

  2. On December 20th, 2009 at 3:09 am AZIS Says:

    thx ats ilmunya….??????

  3. On January 3rd, 2010 at 11:43 am Adjiepn Says:

    Thnx….!!! Trus, berapa ya oktan Premium Pertamina & berapa oktan Primax 88 Petronas (sekarang muncul primax 88)

  4. On January 3rd, 2010 at 9:47 pm admin Says:

    Oktan Premium Pertamina adalah 88, seperti tertulis di bagian awal tulisan saya.

    Jika petronas jual primax 88, berarti kualitasnya sama dengan premium. Hanya saja di Bandung, petronas tidak menjual yang 88, hanya 92 dan 95

  5. On April 11th, 2010 at 7:55 pm Dimas Akbar Says:

    bang,
    brati kra2 utk supra x 125 cw (bkn full injection) bensin yg cocok dan pas apa nh?
    pertamax gmn?
    tngs b4

  6. On April 28th, 2010 at 8:56 pm Kohar Says:

    Mohon konfirmasi.
    Anda mengutip hasil uji majalah otomotif yang menyebutkan nilai oktan bbm premium Pertamina=90.6.

    Kalau benar brarti Scorpio saya dengan CR 9.5 cukup dengan Premium-nya Pertamina.

  7. On April 30th, 2010 at 9:13 am admin Says:

    @kohar
    Mungkin ada salah baca, di bagian awal tulisan saya, sudah jelas saya menuliskan bahwa Premium Pertamina memiliki oktan 88. Silakan di cek lagi.

  8. On August 26th, 2010 at 6:17 pm Gombloh Says:

    Klo CR ny 10,7:1 tu pkeny pa y. ?

Email will not be published

Website example

Your Comment:

 
// // added //
// // added //