Flower Power – Ishak

Life Journal of Ishakq in UNPAD

Mengetahui versi MS SQL Server

April22

Untuk dapat melakukan mirroring database pada MS SQL Server, maka server principal (utama) dan server mirror harus menjalankan Edisi SQL Server yang sama, baik itu Standard maupun Enterprise.

The principal and mirror server instances must be running the same edition of SQL Server—either Standard or Enterprise

Pertanyaannya, bagaimana saya tahu versi, edisi, dan service pack yang digunakan ?

Pergunakan Query sebagai berikut :

SELECT SERVERPROPERTY(‘productversion’), SERVERPROPERTY (‘productlevel’), SERVERPROPERTY (‘edition’)

Tinggalah pusing, menghadapi dua server yang berbeda….

Pengalaman Berhadapan Dengan Komersialisasi Layanan Medis

April13

Pengalaman saya kemaren membawa anak saya di opname sungguh sangat tidak menyenangkan.

Ketika saya mendaftarkan anak saya untuk di opname, dengan jelas saya menspesifikasikan bahwa anak saya adalah peserta askes, dan hal itu tercantum di formulir. Ketika perawatan pun hal tersebut diperjelas dengan meminta surat keterangan rawat untuk askes. Tapi betapa terkejutnya saya bahwa ketika anak saya pulang, saya dikatakan bahwa biaya ditanggung pribadi, karena saya tidak mengurusnya ke loket askes yang ada di rumah sakit tersebut. Proses penggunaan ASKES itu tidak berlangsung otomatis.

What…….

Pertanyaannya adalah, kalau memang prosedurnya seperti itu, kenapa saya tidak dikasih tahu ? Itu kan sama saja dengan penyembunyian informasi agar saya tidak bisa mempergunakan hak saya sebagai peserta askes.

Hampir saja saya bikin ribut di rumah sakit itu, andaikan tidak ada seorang suster yang dengan baik hati mengurus perbedaan pendapat itu.

Hal tersebut membuat saya jadi berpikir tentang layanan medis negeri ini.

1. Kalau memang mau bener-bener mau dapat layanan ASKES gratis di Bandung, ya harus ke RS h*** s***. Tapi kan sudah jadi rahasia umum bahwa RS h*** s**** juga menjadi rumah sakit pendidikan, sehingga saya merasa kalau jadi pasien di sana, sama aja jadi kelinci percobaan. Lihat saja, setiap kali ada visite dokter, pasti di buntuti oleh mahasiswa. Dan seluruh mahasiswa tersebut akan ikut-ikutan melakukan pengecekan medis terhadap pasien. Sial bener. Sudah pasien harus bayar, dijadikan percobaan pulak…. Kalau memang calon dokter itu masih belajar, atau menjadikan pasien percobaan, minimal pengobatan di gratisin…. Ini mah sama aja untuk jadi kelinci percobaan, kita sebagai pasien, harus bayar pulak……

2. Pengalaman saya waktu istri saya dirawat di RS H*** S*** juga sungguh tidak menyenangkan. Dari mulai masuk gawat darurat sampai mendapatkan injeksi anti biotik membutuhkan beberapa hari. Memang harus selama itu untuk mendiagnosa ? Atau karena pake ASKES, maka pengobatan harus yang semurah-murahnya ?

3. Pengalaman saya waktu ayah saya dirawat di rumah sakit juga, ketika saya mengambil obat dengan menyodorkan kartu askes, petugasnya dengan santai mengembalikan kartu askes saya tanpa berkata apapun. Besoknya barulah saya tahu, bahwa obat untuk penyandang askes diambil di loket yang lain. Dan obat yang malam itu saya ambil, harus dibayar tunai. Penyembunyian informasi yang gila kan ?

4. Walaupun sudah pake askes, masih ada obat yang ditanggung bersama antara pasien dan askes. Bah…. binatang macam apa pula itu ?

5. Ngak semua rumah sakit menerima ASKES secara penuh. Beberapa Cuma punya kontrak ASKES untuk kamar aja. Selebihnya, tanggung sendiri.

Timbul pertanyaan, di manakah mereka yang berpenghasilan rendah mendapatkan pelayanan kesehatan atau pelayanan medis yang dapat dijangkau? Lantas di mana dan bagaimana saya bisa mendapatkan penanganan medis yang benar ?

Keterbatasan pengetahuan tidak memungkinkan pasien untuk menilai dan memilih. Apalagi sakit bukan merupakan kegiatan rutin, sehingga pengalaman pasien membeli jasa kesehatan sangat minim. Pasien menjadi mahluk yang masuk hutan belantara pelayanan medis, kemudian kebingungan mencari mana yang benar.

Belum lagi penyembunyian informasi cara penggunaan ASKES atau ASKESKIN untuk GAKIN oleh rumah sakit, membuat pemilik ASKES atau ASKESKIN tidak bisa mempergunakan fasilitas kesehatan yang dimilikinya.

Maka pasien menjadi mahluk lemah yang sangat patut dilindungi.

KOMERSIALISASI LAYANAN MEDIS

Komersialisasi medis adalah ancaman kemanusiaan yang paling mengerikan pada era global. Mengapa? Sebab, perkembangan teknologi yang begitu pesat membutuhkan biaya. Semua beban dipikul pasien. Dan, hukum supply and demand amat rawan terjadi. Terlebih dalam hal ini, pasien tidak memiliki pilihan sama sekali kecuali mengikuti anjuran dokter.

Goldsmith mengingatkan, sudah kodratnya spirit kejujuran ilmiah akan selalu berlawanan dengan spirit industri. Di situlah sumpah dokter menjadi relevan. Tetapi, itu pun menjadi dilematis. Dokter mulia tanpa menguasai teknologi, percuma saja. Ironisnya, teknologi justru dikuasai kaum industri.

Kelihatannya dengan globalisasi ekonomi, sektor medis layanan kesehatan pun tidak lolos dari cengkraman pasar. Jadilah pengobatan sepenuhnya menjadi proses jual beli. Muncullah pelayanan kesehatan yang bersifat komersial. Begitu jauhnya intervensi bisnis, sehingga mereka yang berpenghasilan rendah tidak dapat menjangkau baik biaya jasa pelayanan medis maupun harga obat. Karena itu, mereka melarikan diri ke pengobatan tradisional yang kadang-kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan ilmu kedokteran.

Di sisi lain, lebih dari 80 persen rakyat kita tak mampu membeli jasa kesehatan. Artinya, melepas sepenuhnya sektor kesehatan pada mekanisme pasar sama dengan meninggalkan rakyat. Sifat dasar komersialisasi adalah profit motive.

Lihat saja, harga ganti verban kecil sudah Rp. 10.000, kalau beli di apotik berapa sih ?

Sektor kesehatan merupakan bagian dari komoditas ekonomi yang mengarah pada eksploitasi hak kesehatan publik.

Melambung tingginya harga obat dan biaya pelayanan medis lainnya yang dikarenakan intervensi bisnis mengakibatkan banyak di antara mereka yang berpenghasilan rendah menderita penyakit.

Hanya doa saja yang mengiringi mereka menuju ke alam baka.

UDAH SEMUA ? BELUM !!

Pasien yang sepenuhnya awam bisa saja digiring untuk menggunakan teknologi mutakhir yang belum tentu diperlukan.

Newsweek October 30, 2006, memuat penelitian Prof John Wennberg dan Elliott Fisher, Dartmouth Atlas Project, tentang hubungan penggunaan teknologi tinggi dan kualitas pelayanan medik. Menarik, ternyata lebih banyak menggunakan teknologi tinggi bukan berarti kualitas pelayanan menjadi lebih baik. Sebaliknya, kualitas medik justru lebih tinggi di daerah yang tidak banyak menggunakan teknologi. The less the better!

Pengalaman saya penggunaan teknologi laboratorium medis pun ada yang ngak bisa di google. Contohnya pada bon di bawah, RAFID DHF senilai Rp 195.000 tak pernah muncul di google, sehingga susah untuk melakukan verifikasi mandiri.

SUDAH SEMUA ? BELUM !!

Ada lagi medico-pharmaco complex, hubungan tidak sehat antara dokter dan perusahaan farmasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri farmasi memberikan insentif kepada dokter yang meresepkan obat yang diproduksinya. Dan uang insentif itu (PASTI) akan dibebankan kepada pasien sebagai konsumen obat.

Di sinilah, value base medicine menjadi mutlak! Artinya, setiap biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan nilai yang diterima.

ADAKAH SOLUSI ? BELUM !!
LHO, KAN ADA DOKTER ?

Keterkaitan antara pemilik mobil dan bengkel saat ini ibarat hubungan dokter dan pasiennya pada tahun 70an. Apapun yang dikatakan oleh dokter, pastilah benar di mata pasien. Dan, seorang pasien tanpa reserve, selalu mengikuti apa yang dianjurkan dan menelan obat yang disarankan dokternya tanpa banyak tanya. Lama-lama terdengar keluhan tentang ketidakjujuran dokter, saran pemberian obat yang sebetulnya belum perlu, permainan harga sampai pemilihan obat yang hanya berdasarkan kesepakatan dokter dengan produsen farmasinya.

Waktu kemudian mengajarkan, tidak semua hal yang dikatakan dokter itu adalah langkah paling mujarab. Timbul kasus-kasus malpraktek, pasien tidak sembuh-sembuh dan aroma komersialisasi medis pun makin menyengat.

Dampak yang kita rasakan di era tahun 2000an, di beberapa kalangan muncul sikap tidak percaya dan skeptis kepada kemampuan dokter di Indonesia. Mereka pun ramai-ramai eksodus ke Singapura, Malaysia atau bahkan ke Amerika jika terpaksa menjalani perawatan tertentu.

Sehingga, di sana-sini mulai muncul sikap skeptis terhadap dokter atau tenaga medis tertentu. Pasien pun mulai pasang telinga lebih lebar agar tidak tertipu mentah-mentah.

LHO, DI PUSKESMAS KAN BISA MINTA SECOND OPINION ?

Dengan adanya otonomi daerah, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, atau disebutkan dengan pelayanan kesehatan swadana, sehingga fungsi sosialnya terabaikan.

Puskesmas yang tadinya gratis, kemudian uang pendaftaran menjadi Rp 3.000 per sekali kunjungan, belum termasuk obat-obatan dan lain-lain, apalagi pasien anak-anak yang memerlukan puyer sebagai obat, harus mereka tebus jauh lebih tinggi dari biasanya. Akan pergi ke praktik dokter swasta masih tertumbuk dengan biaya ongkos periksa dokter umum yang rata-rata Rp 35.000 per setiap kunjungan.

Lagi pula meminta second opinion dari dokter lain hanya menambah beban biaya untuk konsul dokter.

LHO, KAN ADA RUMAH SAKIT ?

Melihat mahluk bernama rumah sakit, memang sebuah sistem yang kompleks. Kemewahan gedung, ramahnya pelayanan medis tidak menjadi satu-satunya faktor penentu. Ketepatan penanganan dan kelayakan biaya adalah masalah lain. Semua tindakan harus terukur! Ada Guideline, Efficiency & Effectiveness and Patient Safety Procedure yang rinci.

Mahluk bernama RS ini bisa menjadi mahluk yang berbuat mulia untuk masyarakat, atau sebaliknya, menjadi mahluk buas yang membuat SADIKIN (sakit dikit langsung miskin) para pasien.

Bahkan kini, rumah sakit milik pemerintah sudah mulai bergerak ke arah swakelola dengan memasang tarif hampir menyerupai rumah sakit swasta lainnya. Pokok persoalan nilai-nilai sosial dari pelayanan kesehatan atau pelayanan medis telah ter-erosi.

Pelayanan kesehatan atau pelayanan medis yang didanai dan dimiliki pemerintah mulai menutup pintu bagi mereka yang berpenghasilan rendah secara gratis, dengan menetapkan dana swakelola atau swadana, sehingga fungsi sosial jauh ditinggalkan.

Rawat inap di rumah sakit diminta uang muka dalam jumlah yang tidak dapat ditebus mereka yang berpenghasilan rendah. Apalagi dengan menggunakan alat canggih di dalam menegakkan diagnosis penyakit dengan biaya ratusan ribu rupiah yang tidak akan pernah disinggung oleh mereka yang miskin, serta berbagai pelayanan kesehatan lainnya tidak terjangkau oleh mereka yang miskin.

Sejauh ini institusi kesehatan lebih berfungsi sebagai ‘pemadam kebakaran’ untuk menyembuhkan penyakit. Padahal prinsip kesehatan yang utama adalah “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Semangat ini harus mewarnai setiap aktivitas publik termasuk implementasi setiap kebijakan daerah di sektor kesehatan di tengah keterbatasan keuangan daerah.

Tapi itu belum semua, kaum industrialis mengatakan bahwa rumah sakit bagus adalah yang membawa keuntungan sebesar-besarnya untuk investor.

Cobalah memasuki sebuah rumah sakit. Kemudian lihatlah visi dan misinya (biasanya digantung dan di kasih pigura). Kemudian carilah satu point yang mengatakan bahwa visi atau misinya adalah “untuk menyehatkan bangsa ini”. Kalau ada, kasih tahu saya ya.

Semoga berhasil……

Dengan demikian, menyehatkan rakyat, itu bukan urusan rumah sakit! Investasi telanjur mahal, segala cara menjadi halal.

AH TAK SEMUA KOMERSIL, ADA JUGA BAKTI SOSIALNYA

Berbagai pihak, seperti lembaga, individu, atau organisasi, pada satu hari atau saat tertentu-misalnya pada hari ulang tahun (HUT)-mengadakan bakti sosial dalam pelayanan kesehatan gratis, pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan secara cuma-cuma, memberikan sembako, atau sunatan massal gratis. Bisa juga diadakan setahun sekali atau bersifat insidental.

Tapi penyakit datangnya seperti pencuri, tidak diketahui kapan datangnya, sehingga pengobatan massal atau pemberian obat-obatan secara gratis bersifat dadakan serta tidak berkesinambungan, kurang mengenai sasaran. Alasannya, berbagai penyakit, pemberian obat dengan dosis tertentu dalam jangka waktu tertentu pula, sehingga pemeriksaan atau pemberian obat secara cuma-cuma yang bersifat insidental dan setahun sekali dalam pelaksanaannya merupakan suatu pekerjaan yang cari muka.

Yang diperlukan oleh mereka yang berpenghasilan rendah atau masyarakat miskin adalah pelayanan kesehatan berkesinambungan, biaya terjangkau, dan pelayanan secara cinta kasih yang tidak terintervensi jauh oleh komersialisasi pelayanan. Bakti sosial kesehatan secara insidental diperlukan pada saat terjadi kemiskinan yang mendadak, yaitu saat bencana alam seperti banjir, kebakaran, gunung meletus, dan korban tindak kekerasan.

Hikmah dari bakti sosial pelayanan kesehatan secara cuma-cuma yang bersifat insidental adalah di dalam hati sanubari setiap individu terpendam adanya keinginan membantu sesama, baik dalam pelayanan kesehatan maupun di berbagai bidang lainnya. Rupanya setiap individu memiliki hasrat untuk berbuat baik bagi sesama. Namun, masalahnya adalah bagaimana menggerakkannya

KAN SEKARANG SUDAH ADA OBAT MURAH YANG SERBA SERIBU ?

Sekedar informasi, program obat murah yang serba seribu itu, sudah mengambil untung 30%. (dan ini perkataan mentri kesehatan ibu Menkes Siti Fadilah Supari di sebuah acara TV swasta, kalau tidak salah di acara “save our nation” sekitar bulan maret 2009.).

Hal itu berarti, jika perusahaan farmasi tidak mengambil keuntungan, maka harga obat itu bisa dijual Rp. 700. Ah, apa sih bedanya Rp 300. BANYAK !! bagi orang-orang miskin, uang senilai itu memiliki nilai yang besar, apalagi jika mereka perlu mengkonsumsinya secara rutin dan terjadwal.

Tampak sekali bahwa kerja kolektif untuk menyehatkan bangsa tidak terbentuk. Padahal pemerintah bisa membuat pabrik farmasi yang bersifat non-profit, tak hanya mengandalkan obat-obat yang tersedia di pasar.

Janganlah sampai rakyat miskin menjadi arena, di mana makhluk-makhluk bernama produsen farmasi tersebut saling bunuh berebut mangsa. Berharap si raksasa pemodal asing akan menyehatkan bangsa? Mustahil! Mereka petarung-petarung ulung yang hadir hanya untuk kepentingan dirinya.

Lagi pula, obat serba seribu tersebut hanyalah obat-obat umum. Saya pikir penyakit yang membutuhkan obat yang tidak hanya senilai seribu, lebih banyak, dibanding yang bisa disembuhkan dengan obat serba seribu.

Bahkan ketika anak saya terkena demam berdarah, dia dikasih obat anti biotik injeksi yang (bagi saya) mahal, terlebih itu diberikan secara periodik. Yang menjadi pertanyaan, apakah harus antibiotik itu yang diberikan. Setahu saya antibiotik mahal hanya diberikan jika pasien sudah resisten terhadap antibiotik biasa. Sementara itu, anak saya tidak pernah memiliki record medis resisten terhadap sebuah antibiotik. Jadi dimanakah letaknya obat serba seribu itu ?

Pemerintah di Mana?

Berbicara masalah sistem, berarti kita berbicara tentang negara. Rumah Sakit seharusnya adalah subsistem dari SKN (Sistem Kesehatan Nasional). SKN itulah yang membawa rakyat negeri ini mencapai kesehatan setinggi-tingginya dan dengan biaya semurah-murahnya.

Manusia adalah investasi tertinggi nilainya. Sebab, tak ada satu pun negara akan maju bila SDM-nya lemah. Selain itu, borosnya biaya kesehatan akan mengurangi modal kerja negara. Tanpa SKN yang kuat dan operasional, RS akan bermain sendiri-sendiri menuruti wataknya.

Tanpa campur tangan pemerintah dalam kendali mutu, biaya, serta aturan main layanan medis, maka masyarakat akan menjadi bulan-bulanan.

Tanpa terjaminnya akses rakyat, berarti kematian.

Melepaskan tanggung jawab investasi manusia berarti memusnahkan masa depan bangsa.

Sehat menurut WHO, a state of physical, mental and social well-being, and not merely the absence of disease or infirmity.

Askeskin jelas bukan investasi manusia! Hanya alat pemadam kebakaran semata.

Benarkah negeri ini mempunyai grand design yang mampu membawa rakyat sehat dan terhormat di mata dunia?

Saya jadi curiga bahwa Indonesia menjadi target serangan senjata biologis ringan untuk membuat penjualan obat menjadi laku.

LAYANAN APA SETELAH KOMERSIALISASI LAYANAN MEDIS

1. Tombol pemanggil perawat yang tidak berfungsi

Terbayang kalau pasien ngak ada yang nunggu, atau yang nunggunya tertidur, terus terjadi kejadian darurat, udah mati aja tuh pasien.

2. Ruang jaga perawat yang kosong dan gelap pada jam 5 pagi. Padahal saya yakin, perawat dibayar untuk tetap bangun. Tiga shift untuk jaga 24 jam.

3. No Security

Udah gitu, lemarinya tidak memiliki kunci lagi.

4. Sampah medis, tergeletak di meja (jorok banget sih…..)

5. Dari 3 bed yang ada di sebuah ruangan, hanya dua yang ditutupi gordyn. Selebihnya terbuka.

Cita-cita layanan medis saya

Saya ingin membuat lembaga medis, di mana isinya adalah dokter-dokter orang-orang yang dalam hati sanubarinya memiliki ingin berbuat baik bagi sesama manusia. Mereka akan dibayar oleh lembaga secara pantas. Tapi mereka memberikan layanan medis secara gratis kepada setiap pasien yang datang. Sumber dana lembaga ini bisa didapat dari pemerintah atau para penyumbang abadi. Pada lembaga ini, setiap dokter akan di latih menjadi customer service, sehingga pelayanan kesehatan lebih menyenangkan.

Lembaga medis ini memiliki farmasi standar, sehingga dokter tidak bisa meresepkan obat seenaknya. Seorang pharmasist akan ikut mengecek kebenaran resep dari seorang dokter untuk pasiennya.

Untuk setiap warga negara akan ditunjuk seorang dokter, sehingga pasien bisa mengatakan “My Doctor”. Dengan demikian tiap dokter akan bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan pasiennya.

Terakhir, setiap berobat, seorang pasien akan di sensus mengenai waktu kesembuhannya. Sehingga terdapat standar dalam waktu kesembuhan.

Mungkin cita-cita saya terlalu muluk untuk saat ini, bagi rumah sakit, yang isinya memang orang-orang pada “SAKIT” semua.

Kelihatannya rakyat miskin ngak boleh sakit, soalnya SADIKIN (Sakit Dikit Langsung Miskin).

Saya memang bukan dokter, tapi tak perlu dokter yang paling pintar untuk mengelola rumah sakit. Cukup orang yang mampu me-manage dokter-dokter yang pinter, sehingga bisa memberikan layanan medis terbaik untuk bangsa. (halah……..)

Komersialisasi layanan medis ? Tega bener….. ngak punya hati kali yak…..?

posted under Prihatin | 8 Comments »

RS sebagai rumah ke dua ketika anaku kena demam berdarah

April5

Setelah kemaren anak ku terdeteksi Demam Berdarah (DB), maka langsung di kasih rujukan untuk ke rumah sakit. Saya biasanya sangat rewel kalau urusan rumah sakit dan opname, mengingat bisa saja di satu titik seseorang meninggal dalam perawatan. Bukan tidak percaya sama dokternya, tapi diharapkan ada yang bisa mentalqinkan kalau sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Jadilah rs. m%%%% menjadi pilihan. Kamar pada penuh. Kamar kelas II pun jadi-lah.

Kelebihan memilih kelas rendah
1. Biasanya jiwa solidaritas dan sosial antar keluarga pasien cukup tinggi, dibanding kamar-kamar VIP yang menyendiri.
2. Karena jiwa sosialnya tinggi, minimal kita bisa nitip pasien dan barang, kalau kita terpaksa keluar (untuk makan misalnya)..
3. Pasien bisa sedikit lebih terhibur dengan mengobrol sesama pasien.
4. Pasien bisa bersyukur mana kala tahu, ada pasien lain yang lebih parah.
5. Bisa berbagi makanan antar penunggu pasien (walaupun highly un-recomended, considering health sanitation on hospital)
6. Lebih murah, tidak bikin kantong bobol, tidak sadikin (sakit dikit langsung miskin) he he he.
7. Ngak terlalu rewel soal jumlah penunggu pasien

Kekurangan memilih kelas rendah
1. Walaupun secara umum layanan yang diberikan adalah layanan standard, namun biasanya susternya rada-rada ngak peduli gitu, terutama kalau yang kita keluhkan adalah masalah kecil, seperti adanya gelembung udara di selang infus misalnya. Padahal jika pada infus / suntikan terdapat gelembung udara dan masuk ke pembuluh darah vena, maka akibatnya bisa sangat fatal, yaitu kematian.
2. Ribet, lab sama obat harus ditebus sendiri. Padahal saya pikir, kenapa ngak langsung aja ya perawatnya ambil obat ke apotik, terus diberikan ke pasien. Biar aja biaya akumulasi. Nanti pas pulang dibayar semua. Kan lebih manusiawi.
3. Sudah bayar pake kartu. Selama ini saya tidak pernah melihat adanya kebutuhan kredit card. Tapi rumah sakit yang saya pilih ini ngak nerima debit card. Hanya kredit card, itu pun hanya yang visa.

Tapi setelah sehari, saya malah jadi ikutan istirahat di rumah sakit ini. Apalagi sakit saya kemaren belum sembuh betul. Jadilah tidur melulu. Kelihatannya enak juga dirawat sambil di infus.

Nah, kalau mau tunggu pasien di rumah sakit, usahakan bergiliran. Menungui pasien, memang seperti pekerjaan gampang, tapi rasa bosan dan posisi badan yang tidak bebas, menebabkan proses menunggu pasien menjadi kegiatan yang melelahkan. Dengan bergiliran, maka penunggu pasien yang jadi pasien (karena tertular atau kecapekan) dapat dihindarkan.

Ada satu pengalaman unik, setelah lewat satu hari di RS ini, saya koq jadi mulai betah ya ? Kasur yang empuk dan cukup gede buat bedua sama anak (he he he). Komunikasi obrolan hangat dengan sesama penunggu pasien, saling jaga. Enak juga…..

Tapi sebagus-bagusnya rumah sakit, tetep aja auranya ngak enak. Banyak rasa-rasa kepedihan. Jadi betah ngak betah. Kelihatannya tetep lebih enak di rumah.

Satu hal yang membuat saya sempet mikir adalah ketika anak saya di test alergi terhadap sebuah anti biotik. Bekas suntikannya dibuletin pake ball point kemudian dicatat tanggal testnya. Jika tidak ada alergi, maka pengobatan bisa dilanjutkan. Saya jadi inget kejadian di rumah sakit

Seperti yang diketahui bahwa salah satu prosedur penerimaan pasien di rumah sakit adalah menanyakan, apakah pasien memiliki alergi terhadap sesuatu. Jika terdapat alergi, maka alergi tersebut dicetak pada gelang pasien. Sampai suatu ketika seorang perawat bertanya mengenai alergi seorang pasien, dan pasien tersebut tidak bisa memakan pisang.

Bayangkan keterkejutan yang terjadi ketika beberapa jam kemudian, seorang anak yang sangat marah datang ke ruang perawat dan menunutut, “Siapa yang bertanggung jawab memberi label pada ibu saya sebagai ‘pisang….. ?’

Pesan moral : Memang praktis, tapi …. cobalah sedikit manusiawi

Ngomong2 mengenai demam berdarah, sambil nungguin anakku, coba search di internet. Dapet di sini.

Situs ini mengatakan bahwa :
Jangan Buru-buru Transfusi Darah

Demam berdarah memang bisa menjadi penyakit mematikan bila tidak ditangani secara serius. Namun, penanganannya tidak selalu dengan transfusi. Dalam banyak kasus, banyak minum atau infus saja bisa menyelamatkan pasien.

Hampir setiap tahun, ketika musim hujan berlangsung, selalu saja terjadi wabah demam berdarah dengue (DBD). Kalau sudah begini orang mulai panik melakukan pencegahan. Yang telanjur terjangkit pun mulai resah. Yang terbayang, harus menjalani transfusi darah dengan berbagai risiko yang mungkin muncul. Yang celaka bila dokter yang menangani masih “fresh from the campus”. Tak jarang, dengan entengnya, dia meminta dilakukan transfusi darah. Keluarga pasien pun kalang kabut.

Padahal, demam berdarah tak selalu memerlukan tindakan transfusi darah. Dalam banyak kasus, demam berdarah cukup ditangani dengan pemberian cairan infus. Transfusi darah hanya dilakukan pada kondisi khusus.

Jumlah trombosit cepat normal

*

Seseorang yang menderita demam berdarah mengalami perubahan dalam permiabilitas pembuluh darah. Dinding pembuluh darah penderita menjadi mudah ditembus cairan tubuh. Akibatnya, air dari pembuluh darah akan masuk ke dalam jaringan. Pembuluh darah pun menjadi kekurangan cairan dan oksigen. Bila berlanjut penderita bisa mengalami shock, yang bisa menggiring pasien ke arah kematian.

Dalam kasus ini, mengatasinya bukan dengan transfusi darah atau komponen darah, khususnya trombosit. Pasien cuma mengalami kekurangan cairan, sehingga penanganannya ya dengan memberikan infus cairan elektrolit.

Cairan ini berfungsi untuk mengencerkan darah sehingga darah tidak pekat dan oksigen mudah dialirkan. Komponen darah yang bertugas mengalirkan oksigen itu adalah eritrosit (sel darah merah). Sementara trombosit sebagai pencegah perdarahan, leukosit (sel darah putih) untuk pertahanan hidup, dan plasma darah untuk pembekuan darah.

Demam berdarah juga bisa meyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam darah. Penurunan trombosit ini biasanya terjadi pada hari keempat sampai kelima. Penurunan berlangsung selama 3-4 hari. Namun, jumlah trombosit akan meningkat kembali setelah pasien diberi cairan dalam jumlah cukup. Dan setelah sembuh, jumlah trombosit darah bisa normal kembali dengan cepat. Dengan demikian
transfusi trombosit tidak diperlukan.

Selain itu, transfusi trombosit mengundang risiko cukup tinggi. Selain memerlukan biaya cukup mahal, ada kemungkinan pasien akan mengalami infeksi berbagai virus, terutama bila (komponen) darah tidak melalui proses screening. Lama-lama pasien pun bisa imun terhadap trombosit.

Atas dasar itulah, ketika demam berdarah mewabah pada tahun 1998, RSCM menerapkan kebijakan tidak memberikan trombosit pada pasien yang kondisinya “baik”, yakni tidak terjadi perdarahan; yang dimaksud, adanya bercak-bercak merah di bawah kulit dan bila ditekan tidak menghilang. Transfusi trombosit hanya diberikan bila jumlah trombosit sangat rendah disertai dengan perdarahan.

Ketika itu, tindakan transfusi darah di RSCM hampir nihil. Sampai April 1998 minggu kedua jumlah penderita demam berdarah yang masuk ke RSCM sudah mencapai 354 orang. Mereka tidak diberi transfusi darah berupa penambahan trombosit. Mereka cuma mendapatkan infus cairan elektrolit. Hasilnya, mereka berhasil sembuh. Cuma seorang pasien yang meninggal dunia. Itu pun lantaran si pasien juga penderita diabetes.

Risiko yang muncul dari penurunan trombosit memang tergantung pada tingkat keparahan penurunannya. Bila jumlah trombositnya kurang dari 60.000, pasien mempunyai risiko terjadinya perdarahan. Kurang dari 20.000 risikonya berupa perdarahan tiba-tiba. Lebih rendah dari 5.000 risikonya paling tinggi, yakni perdarahan otak.

Fungsi trombosit di dalam tubuh sangat penting, yakni menghentikan perdarahan akibat pecahnya pembuluh kapiler. Dan perdarahan ini hanya dialami oleh penderita yang mukosanya sudah terbuka. Umpamanya pada orang yang mengalami tukak lambung.

Minum sebanyak-banyaknya

Pada akhir dekade 1970-an dan awal dekade 1980-an penyakit yang disebabkan virus dengue ini banyak menjangkiti anak-anak. Meskipun begitu ada juga bayi berusia kurang dari 1 tahun terserang penyakit ini.

Bayi berumur kurang dari 6 bulan umumnya amat jarang terserang DBD. Namun, pada akhir dekade 1990-an orang dewasa pun bisa terjangkiti. Penderita dewasa berusia 15-40 tahun ini mencapai 30-40%.

Bila virus dengue sudah menyusup ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, gejala demam berdarah pun segera muncul. Namun, gejala awalnya mirip penyakit lain, sehingga dokter pun tak bisa memastikannya.

Pada hari sakit kesatu – ketiga, demam tinggi mendadak, tidak pilek atau batuk, muka kemerahan, lesu dan lemah, tidak nafsu makan, mual dan muntah, dapat disertai mencret, kejang, nyeri otot, pegal-pegal, serta nyeri perut. Pada hari sakit ketiga-kelima, demam turun tapi penderita tetap lemah. Hari sakit keenam merupakan fase penyembuhan, demam menghilang, tidak ada perdarahan baru, timbul
nafsu makan, dan sembuh dari gejala sisa.

Pada saat gejala awal muncul, penderita harus minum sebanyak-banyaknya (ini berlaku untuk sakit apa pun). Dia mesti minum obat penurun panas, kompres hangat, minum obat anti kejang bila ada riwayat kejang.

Penderita demam berdarah tidak mesti harus dibawa ke dokter. Yang perlu dilakukan keluarga pasien adalah tidak terburu-buru panik, apalagi langsung memeriksakan darah pasien tanpa referensi dokter.

Sebaiknya dia diperiksa apakah demamnya benar-benar sangat tinggi? Apakah penderita tidak dapat atau tidak mau minum? Apakah terus menerus muntah? Apakah timbul gejala shock? Apakah timbul perdarahan? Jika semua pertanyaan tadi jawabannya ya, pasien perlu segera dibawa ke dokter. Setelah melalui pemeriksaan darah atas permintaan dokter, apakah hasilnya menunjukkan
peningkatan kekentalan darah dan penurunan trombosit darah secara signifikan? Kalau pertanyaan terakhir jawabnya ya, pasien perlu dibawa ke rumah sakit.

Serangan kedua lebih berbahaya

*

Ada dua virus penyebab demam berdarah, yakni dengue dan chikungunya. Namun, virus dengue menjadi penyebab terpenting demam berdarah.

Makanya, penyakit yang disebabkannya disebut demam berdarah dengue. Yang diserang virus ini adalah sel, kemungkinan sel trombosit. Tapi, kemungkinannya bisa juga menyerang sel lain.

Masa inkubasinya dua minggu. Begitu gejala DBD muncul, sampai tiga hari timbulnya gejala itu virusnya masih hidup. Setelah itu, mereka akan mati.

Virus dengue sendiri terbagi atas empat tipe, yakni dengue 1, 2, 3, dan 4. Tipe virus bisa berbeda-beda untuk setiap negara. Di Indonesia misalnya, terdapat virus dengue tipe 2 dan 3.

Serangan virus dengue kedua akan lebih berbahaya dibandingkan serangan pertama. Pasalnya, serangan kedua bisa menimbulkan reaksi hematologi (perdarahan) berlebihan. Sebaliknya, pasien, terutama anak, yang terkena serangan pertama cuma mengalami demam dengue klasik.

Memang sangat sulit membedakan si penyebar virus dengue, nyamuk aedes aegypti, dari nyamuk lainnya. Yang terbaik agar terhindar dari demam berdarah adalah “jangan sampai digigit nyamuk”.

Ini sekadar semboyan. Yang penting adalah tidak memberi peluang bagi terbentuknya habitat nyamuk. Rajin-rajinlah membersihkan lingkungan, tidak membiarkan genangan air, atau mengganti secara berkala air yang terus menggenang. Pokoknya seperti “3M” yang diserukan di iklan obat nyamuk itu.

Pengasapan, penaburan bubuk abate, dan lain-lain hanya salah satu kit tambahan (bukan utama), karena yang terutama adalah cara hidup bersih kita. (intisari)

Sedangkan kalau menurut dokter, bisa dilihat di sini.

Situs ini bilang :

Demam dan trombosit turun = demam berdarah?

Dr. Alan R. Tumbelaka, SpA(K)
Divisi Infeksi dan Penyakit Tropik
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM

Artikel Majalah Anakku Januari 2006

” Dok, anak saya gak kena demam berdarah kan?” tanya Mira saat berkonsultasi dengan dokter anaknya sore itu. Anaknya sudah demam tinggi sejak kemarin malam dan Mira khawatir ini bukan demam biasa. Ibunya tadi malam sudah mewanti-wanti. “Buruan di bawa ke dokter, takut demam berdarah,” temannya pun menasehatkan.” Periksa saja trombositnya, jangan-jangan demam berdarah, sekarang lagi musim lho.” Mira bertambah panik, apalagi setelah melihat siaran televisi bahwa banyak korban meninggal karena demam berdarah.

Mira kurang puas ketika dokter menjelaskan bahwa anaknya baru mengalami demam selama satu hari, jadi belum bisa dipastikan apakah anaknya demam berdarah atau tidak. “Dok, tidak apa-apa deh anak saya diperiksa darahnya, yang penting bisa ketahuan demam berdarah atau bukan.”

Episode ini pasti sering terdengar di balik bilik konsultasi. Benarkah demam tinggi mendadak berarti demam berdarah? Mengapa ada kasus yang begitu berat hingga pasien meninggal dunia, tetapi mengapa pula ada yang ringan saja? Apakah trombosit turun sudah jaminan bahwa anak terkena demam berdarah?Demam berdarah disebabkan virus dengue sehingga disebut sebagai demam berdarah dengue (DBD). Virus dengue terdiri dari empat jenis atau strain yaitu dengue tipe 1, 2, 3, dan 4. Virus ini dapat menginfeksi manusia lewat nyamuk Aedes Aegipty atau Aedes Albopictus. Nyamuk ini kakinya belang-belang putih-hitam dan mengigitnya justru di siang hari. Tidak semua orang yang terkena virus dengue akan mengalami demam dengan gejala berat, sebagian lagi hanya sakit ringan.

Mengenal lebih dalam demam berdarah

Sudah banyak teori yang coba menjelaskan mengapa pada anak yang satu bisa mengalami demam berdarah yang berat sedangkan pada anak lain tidak. Salah satu teori mengatakan, bila kita terinfeksi virus dengue 2 kali dengan strain yang berbeda, penyakit yang muncul akan lebih parah. Teori yang lain menyebutkan si virus dengue punya “sifat ganas” yang berbeda-beda. Ini menjelaskan mengapa pada bayi yang baru terkena virus dengue satu kali saja langsung menjadi demam berdarah yang fatal.

Di Indonesia dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, DBD sudah menjadi “langganan” setiap tahun. Angka kejadiannya paling tinggi pada musim penghujan yaitu sekitar bulan Februari, Maret, dan April. Di pedesaan, peningkatan kasus sudah mulai terjadi di bulan Desember, sedangkan untuk perkotaan, puncak terjadi pada bulan Mei-Juni.
Gejala

Bisa dimengerti mengapa Mira tidak puas mendengar jawaban dokter. Bila demam baru satu hari, demam berdarah memang sulit dibedakan dengan demam yang disebabkan penyakit lain seperti influenza, sakit tenggorokan, atau tipes karena gejalanya amat mirip.

WHO pada tahun 1997 telah membuat pedoman yang bisa membuat kita curiga adanya demam berdarah:

1. Demam mendadak tinggi 2-7 hari
2. Adanya gejala perdarahan, misalnya bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang meski kulit diregangkan, gusi berdarah, mimisan, dan tinja berdarah. Bintik-bintik merah di kulit bisa muncul sendiri atau dibuat muncul dengan uji bendung. Biasanya uji bendung dilakukan dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah yang digembungkan di seputar lengan hingga pembuluh darah tertekan. Bila positif, akan muncul bintik-bintik merah.
3. Ada pembesaran hati.
4. Terjadi syok: denyut nadi lemah dan cepat, tekanan darah turun, anak gelisah, tangan dan kaki dingin.
5. Pemeriksaan laboratorium: trombosit turun dan terjadi kenaikan kekentalan darah. Ditandai dengan trombosit kurang dari 100.000/µl dan hematokrit meningkat 20% lebih tinggi dari normal.

Trombosit turun belum pasti demam berdarah

Pemeriksaan Trombosit dan hematokrit merupakan tes awal sederhana yang bisa membuat kita curiga adanya demam berdarah. Trombosit adalah sejenis sel darah yang diperlukan untuk pembekuan darah. Jika nilainya turun, maka tubuh menjadi mudah berdarah seperti mimisan, gusi berdarah, dan sebagainya. Jumlah trombosit yang normal adalah sekitar 150-200.000/ µl. Ingatlah bahwa trombosit yang turun bisa pula terjadi pada penyakit lain seperti campak, demam chikungunya, infeksi bakteri seperti tipes, dan lain-lain. Pada demam berdarah, trombosit baru turun setelah 2-4 hari. Bila demam baru satu hari sedangkan trombosit sudah turun, patut dicurigai apakah laboratoriumnya yang salah, orang tua salah menghitung hari demam, atau penyakit itu bukan DBD.

Hematokrit menunjukkan kadar sel darah merah dibandingkan jumlah cairan darah. Untuk anak Indonesia, nila Hematokrit yang normal adalah sekitar 37-43%. Pada DBD, hematokrit meningkat. Lha kita kan tidak tahu nilai hematokrit anak sebelum sakit? Untuk mudahnya, ambil saja patokan bahwa nilai hematokrit lebih dari 40% dianggap sebagai meningkat. Apalagi kalau lebih dari 43%. Mengapa hematokrit meningkat? Karena terjadi perembesan cairan ke luar dari pembuluh darah sehingga darah menjadi lebih kental. Hematokrit yang meningkat merupakan hal penting karena dapat membedakan DBD dengan infeksi virus yang lain.

Untuk lebih pastinya, demam berdarah memerlukan pemeriksaan yang lebih khusus seperti menemukan virus dengue, atau uji reaksi antibodi dan antigen.

Pemeriksaan darah terlalu dini tidak banyak gunanya

Pemeriksaan darah yang dilakukan terlalu dini (misalnya demam baru satu hari) belum bisa memperkirakan apakah benar anak terkena DBD, karena trombosit dan hematokrit masih normal. Bila demam telah berlangsung sekitar 3-4 hari, barulah hematokrit meningkat dan trombosit mulai menurun. Terkadang, pemeriksaan ditambah pula dengan tes Widal untuk menyingkirkan tipes (seperti yang ditawarkan berbagai paket laboratorium), padahal ini belum diperlukan sebelum 7 hari.

Masa kritis

Prinsipnya, orang tua harus benar-benar menghitung hari, sejak kapan anaknya demam. Satu hari berarti satu hari penuh atau 24 jam setelah mulainya demam. Karena dengan begitu, bisa ditentukan kapan anak masuk dalam fase kritis yang merupakan momok mengerikan pada DBD. Pada DBD, demam biasanya akan turun setelah berlangsung 3-4 hari. Namun, justru pada saat demam turun anak dapat masuk ke masa kritis, atau sebaliknya sembuh tanpa komplikasi apapun.

Orang tua justru harus waspada pada saat demamnya turun. Pada anak yang masuk masa kritis, pada saat demam turun, ujung-ujung jari teraba dingin, denyut nadi kecil dan cepat serta tekanan darah menurun dan anak tampak lemas. Semua ini terjadi akibat cairan merembes ke luar dari pembuluh darah. Anak seolah-olah kekurangan cairan darah dan sirkulasi tubuh menjadi gagal berfungsi. Akhirnya anak mengalami syok. Tandanya, kulit teraba dingin terutama ujung jari dan kaki, biru di sekitar mulut, anak gelisah sekali dan lemas, nadinya lemah dan cepat bahkan bisa tidak teraba denyutnya.

Selain syok, dapat pula terjadi perdarahan. Yang paling sering adalah perdarahan saluran cerna, ditandai dengan buang air besar berdarah, akibat trombosit yang rendah ataupun karena syok yang berkelanjutan. Kedua keadaan ini memerlukan penanganan sangat serius dan intensif karena merupakan keadaan sangat gawat.

Namun, untungnya tidak semua anak yang terkena DBD akan mengalami hal yang seram tersebut. Sebagian besar anak akan cepat kembali normal dan sembuh seperti sedia kala setelah fase kritis ini lewat.

Apakah harus dirawat?

Penyebab demam kan belum tentu DBD? Jadi anak yang baru demam biasa selama 1 hari tidak perlu dirawat di rumah sakit. Tapi ada catatannya: Orang tua harus dapat memantau perkembangan penyakit anak di rumah dan kembali kontrol ke dokter. Di rumah, anak harus dipastikan minum banyak cairan dan dipantau suhunya setiap hari. Dokter seharusnya meminta orang tua untuk datang kembali kontrol setelah demam berlangsung 3 hari, dan melakukan pemeriksaan Hemoglobin, trombosit dan hematokrit setiap hari berikutnya. Bila hasil laboratorium menunjukkan ada tanda-tanda penurunan trombosit (kurang atau sama dengan 100.000/µl) atau peningkatan hematokrit (lebih dari 40%), barulah anak harus masuk rumah sakit.

Apalagi kalau setelah 3 hari demam tidak turun juga atau muncul gejala demam berdarah seperti mimisan, gusi berdarah, muntah, lemah, anak gelisah, jangan tawar lagi. Segera masuk rumah sakit.

Kapan anakku boleh pulang dari rumah sakit?

Perawatan demam berdarah tidak memerlukan waktu yang lama. Asalkan fase kritis sudah lewat, orang tua boleh lega. Umumnya, dokter memperbolehkan pulang bila anak sudah tak demam satu hari tanpa pertolongan obat, nafsu makannya membaik, anak tampak makin sehat, hematokrit membaik, trombosit lebih dari 50.000//µl. Dan bila anak mengalami syok, dokter akan memulangkannya tiga hari setelah masa syok lewat.

MITOS DAN FAKTA DBD

· Demam plus perdarahan sama dengan DBD (salah)
Diagnosis DBD perlu memperhatikan kriteria WHO yaitu: ada demam tinggi, ada perdarahan, ada pembesaran hati, dan perembesan cairan darah.

· Bila uji bendung positif sudah pasti DBD (salah)
Uji bendung bisa juga positif pada penyakit lain, bahkan pada anak yang tidak sakit sekalipun.

· DBD merupakan penyakit yang hanya menyerang anak-anak (salah)
Semua umur (bayi hingga orang tua) dapat terkena DBD

· DBD hanya menyerang orang yang tinggal di perumahan kumuh atau sosial ekonomi rendah (salah)
Semua orang dari kalangan mana pun bisa terkena DBD

Pemilu 2009 Jeung Uga Wangsit Siliwangi

April1


Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang: Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.

Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.

Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.

Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.

Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.

Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!

Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

// // added //
// // added //