Transformasi ketakutan terhadap kehilangan orang-orang terkasih #Memoar Ayah Kepada Anaknya.
Posted on : 18-04-2012 | By : admin | In : Uncategorized
Transformasi ketakutan terhadap kehilangan orang-orang terkasih
Prologue :
Nak, ketika aku kehilangan ibu (nenekmu) beribu rasa berkecamuk di dalam diri. Sedih, takut, dan masih banyak lagi. Memang akan banyak orang sekitar yang akan menghiburmu. Namun hiburan tersebut tak akan mampu mengusir gelisahmu. Manakala hal ini terjadi maka engkau akan membutuhkan obat yang mampu mengobati luka batinmu. Dari pada itu, maka aku menggoreskan penaku untukmu. Agar engkau menyadari bahwa Allah telah merindukan orangtuamu, dan Allah memanggil mereka dengan berkasih sayang, lebih dari kasih sayang seluruh mahluk yang ada di dunia ini.
Kehilangan orang-orang terkasih adalah kesedihan yang hampir-hampir tak tertahankan, kadang tak terperi. Kadang yang diperlukan seseorang adalah pertolongan pertama pada kesedihan, sampai ia dapat bangkit lagi dari masa berkabung. Jika kami meninggalkanmu, obatilah kesedihanmu. Baik secara psikologis, maupun secara ilahiyah. Semoga tulisan di bawah akan mengobati kesedihanmu secara psikologis, sedangkan pengobatan ilahiyah, jika engkau mengikuti jejakku, maka aku tak perlu lagi mengajarimu.
ANAKKU… :
Nak, Siapa orang-orang terkasih di sekitarmu ? Ibu, bapak, anak, istri, saudara, atau pihak lain yang dekat di hatimu. Mereka menyokong dan mendukungmu di kala setiap orang membuang muka, mereka yang menyediakan bahu mereka bagimu menangis, atau mereka yang diam-diam turut tersenyum dan mengalirkan air mata kebahagiaan dari balik tirai ketika engkau mendapatkan kesuksesan ?
Secara sosial manusia memang hidup berkelompok, dan hal tersebut wajar adanya. Namun demikian, kadang hubungan seseorang dengan yang dikasihinya sedemikian dekat. Hati dan jiwa seolah berpadu, sehingga mereka bisa menerka apa yang ingin engkau ucapkan, tanpa engkau harus mengucapkannnya. Mungkin secara tidak sadar seseorang menjadi bergantung kepada orang-orang terkasihnya. Ketergantungan ini yang kemudian membuat seseorang untuk tidak siap menerima kehilangan mereka.
Nah, anakku, mari kita menatap ke lain arah sejenak. Orang yang kita kasihi tidak hanya berada di luar sana. Mereka ada juga bersemayam di dalam diri, di hati kita. Setiap sel tubuh kita berasal dari benih mereka. Dengannya ibu atau ayah menghadirkan diri mereka di setiap sel tubuh kita. Dengan itu kita membawa mereka ke masa sekarang, di masa kita, atau ke masa depan, lewat anak keturunan kita.
Anakku, ibu atau ayah tak pernah meninggalkanmu. Engkau adalah kelanjutan dari kami. Dengan pandangan jernih ini, engkau akan tahu bahwa bahkan dengan terurainya tubuh kami, kami akan tetap berlanjut dalam dirimu, terutama dalam energi-energy yang telah kami ciptakan melalui pemikiran, tutur kata dan tindakan. Apa yang kami berikan kepadamu akan terus berlanjut baik dengan atau tanpa kehadiran tubuh kami.
Dengan pandangan jernih ini, maka untuk pertama kalinya engkau dapat menyentuh sifat tanpa kelahiran dan tanpa kematian dari semua orang-orang yang engkau sayangi. Dan semoga hal ini dapat mengurangi ketakutanmu atau kesedihanmu sepeninggal kami.
Nak, Kami berada di sisimu, di dalam dirimu, menemanimu, selalu…














